Menyelamatkan Putri Naga Bag. 3

Ditulis November 30, 2012 oleh conspiracy80
Kategori: Legenda

Tags:

Menyelamatkan Putri Naga Bag. 3

 
Setelah pertempuran besar terjadi maka mereka berhasil memboyong Putri Naga kembali ke keluarganya dengan selamat.
 
Tak Harap Imbalan
 
Sebuah perjamuan besar digelar untuk merayakan kembalinya Putri dan sebagai ungkapan rasa terima kasih terhadap Liu yang telah berjasa dalam penyelamatan tersebut.

Kelak dimasa depan tulisan dalam surat tersebut dibuat menjadi sebuah lagu dan cerita yang terus di dengar dari waktu ke waktu. 

 
Sang Putri terus berterima kasih kepada Liu atas budi jasanya, namun Liu hanya merasa gembira bisa membantunya dan tidak meminta imbalan apapun. Dalam mengenakan busana kerajaan, penampilan sang putri terlihat berbeda, kini tampak anggun dan cantik dengan memakai mahkota bunga di rambutnya.

Setelah meneguk minuman tiga putaran, Qiantang menawari Liu untuk menikah dengan kemenakannya. Dia katakan Putri Naga tentu tidak akan keberatan sebagai balas budi atas kebaikan Liu.  

 
Seketika Liu terkejut keheranan dan menggoyang-goyangkan kepalanya. Saat dia mampu menguasai diri, ia berkata, “Tidak, tidak, nanti dunia akan mengira saya melakukan ini karena kecantikannya dan ada maksud lain. Sebagai seorang pria, sudah seharusnya siap menolong setiap orang yang membutuhkan.” 
 
Masih dalam keadaan sedikit ling-lung, dia berkata, “Ada perkataan bahwa seorang ksatria tidak akan mengharap imbalan atas kebaikan yang dilakukannya. Dia melakukan itu bagi kebaikan orang yang membutuhkannya. Maafkanlah saya, saya tidak bisa menerima maksud baik Anda. Namun yakinlah, saya sangat mengagumi Putri.” Setelah mengatakan ini, Liu meninggalkan istana Raja Naga, layaknya seorang ksatria tanpa mengambil hadiah dan imbalan yang ditawarkan.  
 

 

Pasangan Serasi
 
Sesampai di rumah, Liu menceritakan kepada ibunya semua peristiwa yang terjadi. Si Ibu menatapnya dengan perasaan takjub, dan berkata, “Ternyata Dewa benar-benar ada di dunia ini.” Ibunya merasa bangga terhadap tindakan Liu yang telah berbuat layaknya seorang ksatria.
Tak terasa waktu telah berlalu satu tahun. Ibu Liu menginginkan putranya untuk segera menikah dan berkata bahwa laki-laki dan perempuan bila telah beranjak dewasa sudah seharusnya menikah.
 
“Ibu telah memilihkan calon yang sesuai untukmu. Dia putri dari Keluarga Lu di Wilayah Jie-ang, tidak jauh dari sini.  Keluarga baik-baik, dia juga telah dididik  untuk menjadi istri yang baik, selain itu dia baik dan pintar, juga pekerja keras. Kamu akan menyukainya. Jadi segeralah pilih hari pernikahanmu.”
 
Pada malam pernikahannya, Liu hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pengantin perempuan sangat mirip dengan putri ketiga Raja Naga Dong Ting. Kemudian Liu menceritakan kisahnya dan mengaku masih memikirkan sang putri. Namun demikian dia akan selalu menjadi seorang pria sejati, baik dalam perkataan maupun perbuatannya, dia berjanji akan selalu menghormati dan menghargai istrinya.
 
Mendengar pengakuan Liu, hati pengantin perempuan sangat tersentuh. Kemudian dia juga mengaku bahwa sebenarnya dia adalah putri ketiga Dong Ting. Selama ini dia tidak dapat melupakan kebaikan hati Liu.  Sang putri sangat percaya pada perkataan orang dulu, bahwa seseorang yang menerima setetes air kebajikan, akan membalasnya dengan sumber mata air. Sebenarnya keluarga Putri telah lama memeras otak untuk mewujudkan impiannya.
 
Paman Qiantang Jun tinggal bersama putri di Wilayah Jieyang. Mereka telah menemukan cara untuk menyatukan sepasang kekasih ini, dan penyatuan ini nampak seolah-olah direstui Langit.
 
Petikan Moral
 
Kisah ini termasuk salah satu legenda yang paling disukai, dan dimasa lalu ditulis ulang dalam bentuk fiksi, drama dan film. Kebanyakan orang pernah mendengar kisah ini dan dapat menceritakannya.
 
Liu Yi menjadi contoh dari kebijakan tradisional Tiongkok yang mengatakan bahwa seorang ksatria tidak mengharapkan imbalan ketika memberikan bantuan ataupun manfaat pada orang lain. Perkataan ini telah menjadi panutan orang saat melakukan perbuatan baik.
 
Selain itu, kisah ini juga menceritakan bagaimana seseorang bersikap ketika memperoleh kebajikan dari orang lain: seseorang yang menerima setetes air kebajikan, akan membalasnya dengan sumber mata air.
 
Prinsip-prinsip ini adalah sederhana, prinsip moralitas yang universal, dan dengan kisah-kisah seperti ini, mereka tetap bersemayam di dalam benak setiap orang Tiongkok selama berabad-abad, namun kini telah diabaikan dan dilupakan. Sekarang di RRT ada perkataan umum, “Setiap orang seharusnya mawas diri. Jika tidak, Langit akan menghancurkan.”
Perkataan ini sungguh berbalikan dengan kebijakan kuno. Manusia telah kehilangan martabatnya yang membuat mereka menjadi seorang manusia. Betapa bahayanya ini bagi dunia!  (Angela Wang)

Air Sumur Nanning

Ditulis November 30, 2012 oleh conspiracy80
Kategori: Legenda

Tags: , ,


Di Guangxi, kota Nanning ada sebuah sumur. Air sumur tersebut sangat
jernih dan mani, serta dapat melepaskan dahaga di musim panas dan
menghangatkan di musim dingin.

 
Orang dari luar kota yang tidak pernah meminum air sumur tersebut jika
sakit dapat mengobati penyakit. Ada sebuah legenda untuk sumur tua itu.

 
Dahulu pada dinasti Song utara, panglima Diqing diperintah untuk
berperang melawan pemberontak. Ketika melewati kota Nanning, ada seorang
prajurit bernama Lei Bolong jatuh sakit.
 
Karena masa peperangan kekurangan obat. Semakin lama penyakit Lei
Bolong semakin parah, Diqing takut penyakit Lei Bolong menular kepada
prajurit yang lain oleh sebab itu dia mengusir Lei Bolong dari barak
militer.
 
Lei Bolong dengan susah payah merangkak, akhirnya dia sampai di sebuah
padang rumput. Karena terlalu lemah tidak bertenaga akhirnya dia hanya
bisa terbaring di padang rumput.
 
Di padang rumput dia melihat sepasang burung gagak yang tidak dapat
terbang. Pasangan burung itu sangat terkejut melihat Lei Bolong. Mereka
bercicit tanpa henti. Lei Bolong sangat kasihan melihat burung gagak
ini, dia lalu menangkap 2 ekor ulat serta menyuapi mereka berdua.
 
Dewa petir melihat kebaikan hati Lei Bolong merasa tersentuh. Dia
sangat simpati kepada Lei Bolong. Lalu dengan mengibaskan tangannya dia
mengibaskan air surgawi ke tempat Lei Bolong. Segera air surgawi yang
terjatuh dari langit berubah menjadi sebuah kolam air kecil yang jernih.
 
Pada saat itu, Lei Bolong siuman dari pingsan. Dia merasa sangat haus,
dan dengan sekuat tenaga dia merangkak ke kolam, lalu mengambil airnya
dan meminumnya dengan lahap. 
  
Sangat ajaib, begitu dia meminum air tersebut, dia merasa badannya
menjadi ringan dan terasa agak nyaman. Setelah beberapa saat dia kembali
meminum seteguk lagi, dia menyadari seluruh penyakitnya telah sembuh.
Lei Bolong sangat gembira, dengan tergesa-gesa di kembali ke barak
militer.
 
Para prajurit yang telah beberapa hari kekurangan air, satu persatu
jatuh sakit.  Panglima Diqing sedang panik memikirkan masalah ini.
Hingga kemudian dia melihat kedatangan Lei Bolong. Dia sangat kaget,
melihat Lei Bolong sudah sehat.
 
Lei Bolong kemudian menceritakan peristiwa yang dilaluinya, bahwa
setelah meminum air di kolam penyakitnya segera sembuh, Diqing merasa
heran, lalu memerintahkan Lei Bolong membawa dirinya serta beberapa
prajurit ke tempat kolam berada.
 
Diqing menyuruh prajuritnya mengangkat seember air pulang ke barak, dan
menyuruh prajurit yang sakit meminum air tersebut. Benar saja, begitu
para prajurit yang sakit meminum air tersebut langsung sembuh. Panglima
Diqing sangat gembira lalu dia menyuruh prajuritnya segera menggali
sebuah sumur di kolam tersebut, dan memerintahkan seluruh prajuritnya
meminum air tersebut untuk mencegah terserang penyakit.

Setelah mereka berhasil membasmi pemberontak, Diqing menghadiahkan
gelar kehormatan kepada Lei Bolong. Untuk memperingati kejadian ini,
penduduk di Nanning memberi gelar sumur tersebut sebagai “Sumur Obat” 
(Erabaru)

Rahasia Jubah Naga Kaisar

Ditulis November 29, 2012 oleh conspiracy80
Kategori: Legenda

Tags: , , ,

Jubah untuk kaisar dan membawa keberuntungan bagi rakyat

Ada pepatah China kuno mengatakan bahwa masa pemerintahan kaisar di

mulai ketika dia memakai jubah barunya. Jubah kaisar dari Dinasti Qing
yang terakhir (1644-1911) membuktikan pepatah ini.
Pakaian diangggap sebagai simbol status untuk banyak dinasti, dan
merupakan tanda dari posisi seseorang dalam masyarakat.

Sebagai
contohnya, bulu jubah hitam digunakan untuk pejabat tinggi dan warna
kuning digunakan untuk keluarga kekaisaran.

Rakyat biasa tidak diizinkan untuk menggunakan atau bahkan memiliki
pakaian seperti itu, meskipun mereka dizjinkan untuk menjualnya. Setiap
orang yang melanggar peraturan ini akan menghadapi hukuman berat, bahkan
dikenai hukuman mati.
Lengan baju yang melingkar dan kerah berat terpisah
Dinasti  Qing berdiri ketika Manchu – penunggang kuda dari daerah Timur
Laut – menaklukkan Kekaisaran China Dinasti Ming pada tahun 1644. Akan
tetapi, dalam segi kebudayaan, tradisi, adat istiadat dan ilmu
pengetahuan, Manchu belajar lebih banyak dibandingkan dengan budaya
China yang telah berkembang pesat.
Mereka bukan hanya sistem yang maju dari pejabat negara, tetapi juga
ideogram China, ritual mereka, adat istiadat dan bahkan ideologi dan
agama. Setelah menaklukkan China, Manchu mengagumi kebudayaan China,
akan tetapi mereka juga mempertahankan kebanggaan mereka pada akar
budaya mereka sendiri.
Sebelum mereka menetap, pakaian bepergian adalah milik yang paling
berharga bagi suku Manchu. Pakaian tersebut dibuat kebanyakan dari kulit
binatang, yang dipotong sesuai untuk binatang tersebut untuk
memaksimalkan penggunaan material.
Baju kekaisaran memiliki lengan baju yang berbentuk seperti tapal kuda
dan juga kerah berat dan terpisah alat radisi Manchu. Karena suku Manchu
mencari nafkah dengan berburu di daerah beriklim Timur Laut, mereka
harus melindungi diri mereka dari cuaca dingin.
Suku Manchu memakai lengan melingkar yang dapat diletakkan di atas
tangan, dan kerah berat terpisah yang bertujuan untuk melindungi para
pemburu dari cuaca dingin dalam perjalanan panjang.

Akan tetapi, lengan baju tersebut pada akhirnya terbukti menjadi
penghalang dalam kehidupan sehari-hari dalam istana. Para pejabat istana
sering kali menggulung lengan baju mereka, dan hanya menurunkan lengan
baju mereka jika ingin menyapa seseorang yang baru dikenal. Kebiasaan
ini di mulai dari kaisar dan pejabatnya, dan akhirnya menyebar kesemua
orang. Sehingga, menjadi kebiasaan orang China untuk menggulung ke atas
dan ke bawah lengan baju mereka, ketika menyapa orang asing.

Gaun paling rumit di dunia

Sebelum gaun diizinkan untuk dipakai di tubuh Kaisar China dari Dinasti
Qing, diperlukan dua setengah tahun untuk mengerjakan dengan tangan
oleh penjahit istana. Di dalam istana terdapat toko pakaian khusus untuk
membuat baju.
Pola baju dan potongan dibentuk di tempat itu dan harus mendapat
persetujuan dari kaisar dan juga pejabat tinggi istana. Kemudian, pola
baju akan diberikan kepada pembuat sutera. Ketika kain telah selesai,
akan dipotong oleh para seniman dan diberikan kepada pihak ketiga untuk
kemudian dijahit dan disulam.
Hanya benang yang paling bagus yang akan digunakan untuk menyulam,
bahkan kadangkala sampai terbuat dari emas murni. Kaisar mempekerjakan
500 seniman untuk menyulam dan 40 orang seniman untuk membuat sulaman
emas.
Jubah untuk acara tertentu
Pakaian kaisar pada Dinasti Qing termasuk beragam gaun dan jubah.
Terdapat jubah untuk perayaan, jubah khusus untuk upacara, pakaian
bepergian dan pakaian untuk cuaca buruk, salju dan hujan, dan juga
pakaian untuk kegiatan sehari-hari yang digunakan dalam tempat tinggal
dan lingkungan pribadi.
Sesuai dengan kondisi cuaca, pakaian tersebut dibuat bergaris atau
tidak, terbuat dari sutera, kulit atau katun.Warna yang dipilih untuk
sesuai dengan pakaian kekaisaran. Salah satu warna yang digunakan untuk
kaisar adalah kuning cerah, merah, biru dan biru muda.
Kuning digunakan sebagai warna untuk perayaan. Sedangkan tiga warna
lainnya digunakan untuk upacara dalam tiga kuil utama: Kaisar akan
menggunakan warna biru di Kuil Langit, merah di Kuil Matahari dan warna
biru muda di Kuil Bulan. Dengan setiap jubah, kaisar juga akan
menggunakan ikat pinggang dan topi yang sama.
Jubah Naga yang terkenal disulam naga emas. Jubah tersebut digunakan
untuk perayaan khusus, dan kaisar menggunakan jubah tersebut hanya pada
perayaan khusus pada hari baik.

Warna kuning digunakan untuk perayaan, sedangkan ketiga warna lainnya
untuk pemujaan. Jubah upacara yang sederhana digunakan dalam berbagai
perayaan seperti menikah, hari pemujaan dan juga Tahun Baru.

Dua Belas Pola dari Jubah Naga

Gaun kekaisaran penuh dengan segala ornament berseni dan juga simbol
tersembunyi untuk keberuntungan,  dan imej naga mendominasi setiap
kostum kekaisaran. Sebagai elemen penting dari Konfusianisme, naga
melambvangkan kekuasaan kaisar.
Jubah Naga dapat memiliki sembilan naga, satu di setiap bahu, satu di
punggung dan satu menutupi dada mulai dari atas hingga kebawah jubah,
dan keempat lainnya mendekorasi bagian bawah jubah kekaisaran.
Jubah kaisar tidak hanya sebagai ornament dari Kaisar, juga berfungsi
untuk membawa keberuntungan bagi rakyat. Selain dari naga, sebelas
simbol pembawa keberuntungan lainnya juga ditemukan di jubah kaisar:
日(rì) — matahari, 月 (yuè) bulan dan 星辰 (xīngchén) – bintang-bintang,
adalah tiga sumber cahaya; 群山 (qúnshān) – pegunungan, melambangkan
perlindungan terhadap kekuasaan kaisar dari empat penjuru arah mata
angin.
Sedangkan simbol  華虫 (huàchóng) – serangga, melambangkan kebijakan
kaisar; 宗彝 (zōngyí) – secangkir anggur, melambangkan kejujuran,
kesetiaan dan berbakti; 藻 (zăo) – rumput air, melambangkan kemurnian; 火
(huŏ) – api, melambangkan kejujuran; 粉米 (fĕnmĭ) – nasi melambangkan
kemakmuran; 黼 (fŭ) – sebuah sulaman khusus dengan warna hitam dan putih
sebagai simbol dari keteguhan dan ketegasan kaisar dan 黻 (fú) – sulaman
lain dalam warna hitam dan hijau yang merupakan lambang lain dari
kejujuran.

Simbol lain dari jubah kaisar adalah kelelawar merah yang jika
dilafalkan akan berbunyi seperti “nasib baik yang berlimpah”. Pakaian
dalam bergambar samudra dan pegunungan yang terbentang sepanjang dunia,
karena menurut tradisi China, kaisar adalah “anak langit” yang
memerintah terhadap seluruh dunia.

Menyelamatkan Putri Naga Bag. 2

Ditulis Juni 28, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Legenda

Tags: ,
 

Menyelamatkan Putri Naga Bag. 2

 
Putri Naga, anak ketiga Raja Naga Danau Dong Ting, telah dinikahkan dengan Pangeran Naga Sungai Jinghe yang kejam, bengis, tak berperasaan dan keras kepala, serta telah mengusirnya dari istana.

Liu Yi, seorang pelajar muda yang mendengar tangisan derita pilu Putri Naga merasa iba dengan penderitaan putri.
Dia mendengarkan kisahnya dan menyadari bahwa hanya dia satu-satunya yang dapat membawa pesan Putri Naga kepada ayahnya, Raja Naga Danau Dong Ting.

Sebagai seorang yang budiman, Liu mengesampingkan kepentingan pribadinya untuk mengikuti ujian negara kelulusan calon pejabat pemerintah di Beijing, dikarenakan kemurnian hatinya ia segera mengubah perjalanannya mengantarkan pesan Putri Naga yang ditulis dengan darah pada sobekan kain baju Putri.

Danau Terbelah

Liu Yi segera mengubah perjalanannya menuju Danau Dong Ting. Dia terus berjalan tanpa menghitung hari hingga tiba di tujuan. Putri Naga itu telah memberitahu arah dengan jelas bagaimana menemukan istana keluarganya, yang berlokasi dekat desa di selatan Danau Dong Ting. Putri berpesan untuk bertanya pada penduduk sekitar tentang lokasi pohon jeruk keramat di pinggir danau.

Sesampai di sana, “Ketuk tiga kali, kemudian tepuk tangan tiga kali dan memanggil tiga kali: Dong Ting Jun, saya membawa pesan untuk Anda.”

Liu Yi mengingat petunjuk sang Putri dengan jelas, dan tanpa di duga air danau tiba-tiba terbelah, lalu  muncul makhluk mirip kepiting kecil menghampirinya. Dia bertanya bagaimana Liu Yi sampai ke tempat ini dan siapa yang memberikan kata kunci kepadanya. Liu mengatakan beberapa patah kata, dan makhluk itu tanpa banyak bicara lagi memberi isyarat untuk mengikutinya. Mereka berjalan ke dalam danau, kemudian air yang ada di belakang mereka menutupnya, namun jalan di depan mereka tetap terbuka lebar tanpa setetes air pun yang jatuh padanya.  

Sebelum mata Liu terpesona dengan keindahan istana yang dikelilingi taman bunga dan pohon yang mengagumkan, ia mengingatkan diri untuk bergegas menyampaikan pesan sang Putri kepada raja naga.

Dia menyerahkan surat sang putri. Raja meneteskan air mata ketika mengetahui penderitaan yang menimpa putrinya. Dalam waktu singkat seluruh istana mendengar kabar penderitaan sang putri.

Namun begitu, raja teringat persahabat-annya dengan naga-naga Sungai Jinghe yang telah lama terjalin, sehingga membuatnya ragu untuk melakukan tindakan tegas. Tak satu pun yang berani mendesaknya. Tiba-tiba, seseorang menerobos masuk dari arah pintu dan berteriak, “Kakak, ketika Anda masih bimbang memutuskan, putri kita dapat terbunuh. Saya akan pergi.”

Pertempuran Sengit

Adik  Raja Naga Sungai Qiantang, Qiantang Jun, adalah naga yang bertabiat lekas marah namun sebenarnya sangat baik hati. Percaya pada keadilan dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menolong orang. Dia bergegas datang ke istana begitu mendengar nasib buruk yang menimpa kemenakannya.

Sebagai pribadi yang suka membuat keputusan cepat, Qiantang Jun tak menunggu lebih lama lagi, dia lalu mengubah wujudnya menjadi naga dan terbang ke langit, sembari membuat guntur dan petir. Liu Yi terkesima melihat seluruh peristiwa yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Hanya dalam beberapa jam kemudian, Qiantang Jun kembali ke istana, dengan berhasil memboyong kembali kemenakannya. Banyak naga Sungai Jinghe telah terbunuh saat pertempuran sengit berlangsung. Qiantang Jun dan kakaknya tertawa penuh kegembiraan merayakan kembalinya sang putri

 
 
Setelah pertempuran besar terjadi maka mereka berhasil memboyong Putri Naga kembali ke keluarganya dengan selamat.
 
Tak Harap Imbalan
 
Sebuah perjamuan besar digelar untuk merayakan kembalinya Putri dan sebagai ungkapan rasa terima kasih terhadap Liu yang telah berjasa dalam penyelamatan tersebut.
Kelak dimasa depan tulisan dalam surat tersebut dibuat menjadi sebuah lagu dan cerita yang terus di dengar dari waktu ke waktu. 
 
Sang Putri terus berterima kasih kepada Liu atas budi jasanya, namun Liu hanya merasa gembira bisa membantunya dan tidak meminta imbalan apapun. Dalam mengenakan busana kerajaan, penampilan sang putri terlihat berbeda, kini tampak anggun dan cantik dengan memakai mahkota bunga di rambutnya.
Setelah meneguk minuman tiga putaran, Qiantang menawari Liu untuk menikah dengan kemenakannya. Dia katakan Putri Naga tentu tidak akan keberatan sebagai balas budi atas kebaikan Liu.  
 
Seketika Liu terkejut keheranan dan menggoyang-goyangkan kepalanya. Saat dia mampu menguasai diri, ia berkata, “Tidak, tidak, nanti dunia akan mengira saya melakukan ini karena kecantikannya dan ada maksud lain. Sebagai seorang pria, sudah seharusnya siap menolong setiap orang yang membutuhkan.” 
 
Masih dalam keadaan sedikit ling-lung, dia berkata, “Ada perkataan bahwa seorang ksatria tidak akan mengharap imbalan atas kebaikan yang dilakukannya. Dia melakukan itu bagi kebaikan orang yang membutuhkannya. Maafkanlah saya, saya tidak bisa menerima maksud baik Anda. Namun yakinlah, saya sangat mengagumi Putri.” Setelah mengatakan ini, Liu meninggalkan istana Raja Naga, layaknya seorang ksatria tanpa mengambil hadiah dan imbalan yang ditawarkan.  
 
Pasangan Serasi
 
Sesampai di rumah, Liu menceritakan kepada ibunya semua peristiwa yang terjadi. Si Ibu menatapnya dengan perasaan takjub, dan berkata, “Ternyata Dewa benar-benar ada di dunia ini.” Ibunya merasa bangga terhadap tindakan Liu yang telah berbuat layaknya seorang ksatria.
Tak terasa waktu telah berlalu satu tahun. Ibu Liu menginginkan putranya untuk segera menikah dan berkata bahwa laki-laki dan perempuan bila telah beranjak dewasa sudah seharusnya menikah.
 
“Ibu telah memilihkan calon yang sesuai untukmu. Dia putri dari Keluarga Lu di Wilayah Jie-ang, tidak jauh dari sini.  Keluarga baik-baik, dia juga telah dididik  untuk menjadi istri yang baik, selain itu dia baik dan pintar, juga pekerja keras. Kamu akan menyukainya. Jadi segeralah pilih hari pernikahanmu.”
 
Pada malam pernikahannya, Liu hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pengantin perempuan sangat mirip dengan putri ketiga Raja Naga Dong Ting. Kemudian Liu menceritakan kisahnya dan mengaku masih memikirkan sang putri. Namun demikian dia akan selalu menjadi seorang pria sejati, baik dalam perkataan maupun perbuatannya, dia berjanji akan selalu menghormati dan menghargai istrinya.
 
Mendengar pengakuan Liu, hati pengantin perempuan sangat tersentuh. Kemudian dia juga mengaku bahwa sebenarnya dia adalah putri ketiga Dong Ting. Selama ini dia tidak dapat melupakan kebaikan hati Liu.  Sang putri sangat percaya pada perkataan orang dulu, bahwa seseorang yang menerima setetes air kebajikan, akan membalasnya dengan sumber mata air. Sebenarnya keluarga Putri telah lama memeras otak untuk mewujudkan impiannya.
 
Paman Qiantang Jun tinggal bersama putri di Wilayah Jieyang. Mereka telah menemukan cara untuk menyatukan sepasang kekasih ini, dan penyatuan ini nampak seolah-olah direstui Langit.
 
Petikan Moral
 
Kisah ini termasuk salah satu legenda yang paling disukai, dan dimasa lalu ditulis ulang dalam bentuk fiksi, drama dan film. Kebanyakan orang pernah mendengar kisah ini dan dapat menceritakannya.
 
Liu Yi menjadi contoh dari kebijakan tradisional Tiongkok yang mengatakan bahwa seorang ksatria tidak mengharapkan imbalan ketika memberikan bantuan ataupun manfaat pada orang lain. Perkataan ini telah menjadi panutan orang saat melakukan perbuatan baik.
 
Selain itu, kisah ini juga menceritakan bagaimana seseorang bersikap ketika memperoleh kebajikan dari orang lain: seseorang yang menerima setetes air kebajikan, akan membalasnya dengan sumber mata air.
 
Prinsip-prinsip ini adalah sederhana, prinsip moralitas yang universal, dan dengan kisah-kisah seperti ini, mereka tetap bersemayam di dalam benak setiap orang Tiongkok selama berabad-abad, namun kini telah diabaikan dan dilupakan. Sekarang di RRT ada perkataan umum, “Setiap orang seharusnya mawas diri. Jika tidak, Langit akan menghancurkan.”
Perkataan ini sungguh berbalikan dengan kebijakan kuno. Manusia telah kehilangan martabatnya yang membuat mereka menjadi seorang manusia. Betapa bahayanya ini bagi dunia!  (Angela Wang)

Menyelamatkan Putri Naga Bag. 1

Ditulis Juni 28, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Legenda

Tags:

Menyelamatkan Putri Naga Bag. 1

 
 

Dari masa ke masa, legenda Tiongkok diturunkan dari generasi ke generasi, dan seiring dengan itu kisah ini telah disesuaikan dalam kehidupan mereka, oleh karena itu banyak muncul peristiwa dan karakter baru. Sebenarnya setiap versi cerita mengajarkan prinsip yang sama, dari hal yang ingin disampaikan legenda tersebut. 

 
Legenda Liu Yi mengantarkan pesan Putri Naga semakin popular sejak pertama kali diceritakan pada zaman Tiongkok kuno.  Kisah ini berasal dari Dinasti Tang, periode Zhen Yuan (785-805 Masehi). Saya akan menuliskan kembali kisah ini, dengan mengambil kisah terbaik dari berbagai versi berbeda yang pernah saya dengar. 
 
Tangisan dari Kejauhan
Pemuda Liu Yi berasal dari daerah sekitar Sungai Yangtze dan utara Danau Dongting, Provinsi Hubei, Tiongkok. Ia mengadakan perjalanan jauh ke Beijing, mengikuti ujian tahunan dari kerajaan untuk mengisi posisi dalam pemerintahan. Ujian ini merupakan persyaratan mutlak bagi pelajar yang ingin mengabdi kepada kaisar dan membantu mengatur negara. 
 
Liu Yi melintasi Sungai Jinghe, yang mengalir jauh dari kaki Gunung Kongton bagian timur Provinsi Gansu. Saat menyusuri tepian sungai di musim dingin, Liu merasa angin dingin utara terus mendorongnya berjalan. Dia merasa seperti pengembara kesepian di padang yang sunyi.
Berjalan seorang diri dengan ditemani angin dingin utara, membuatnya hampir tak percaya jika ada manusia yang tinggal di padang salju yang terpencil ini. Namun demikian, dari kejauhan dia mendengar tangisan pilu seseorang. Liu memutuskan untuk mencari asal suara itu. 
 
Ketika menemukannya, Liu melihat seorang perempuan muda, menggigil kedinginan di tengah sekawanan domba. Tangannya memegang sebuah cambuk, sebagai pertahanan dirinya, dengan wajah yang berurai air mata, dia terus menangis dengan menyayat hati. 
 
Kesedihan Perempuan Gembala
 
Liu Yi merasa kasihan, ia mencoba mendekat dan bertanya, “Anda berdiri di tengah padang es dan salju tanpa sehelai rumput pun untuk makanan domba.” Dia tidak menanggapinya, malah menangis tersedu-sedu. Sehingga membuat Liu Yi memberanikan diri untuk bertanya lagi, “Coba katakan pada saya apa yang membuat Anda bersedih? Bisakah saya membantunya?”
Membutuhkan waktu cukup lama bagi Liu Yi untuk membujuk perempuan itu mengatakan sumber kesedihannya. Perempuan itu akhirnya mengaku, bahwa sebenarnya dia adalah putri ketiga Raja Naga Danau Dong Ting. Ayahnya telah menikahkannya dengan putra bungsu dari sepuluh bersaudara Raja Naga Sungai Jinghe. 
 
Dia melanjutkan kisahnya, tentang hal yang tidak diketahui sang ayah saat menikahkannya dengan putra Raja Jinghe. Dia berkata dengan sorot mata ketakutan, bahwa sebenarnya naga-naga Jinghe kejam, bengis, tidak berperasaan dan  keras kepala. Suaminya memiliki semua sifat ini dan memperlakukannya dengan sangat buruk.  
 
Selain itu, suaminya sangat egois dan mengabaikan tugas seorang pangeran kepada penduduk sekitar. Penduduk sangat membutuhkan air untuk memelihara ladang agar dapat menghasilkan panen yang bagus. Namun suaminya menolak menurunkan hujan dan tidak mau peduli dengan kekeringan dan bencana yang melanda penduduk lokal.  
 
Putri ini sejak kecil dididik untuk selalu memperlakukan orang dengan baik. Sehingga dia berusaha keras membuat suaminya berubah dan melakukan hal yang benar, menurunkan hujan dan juga membuat cuaca bagus bagi penduduk. Dia meminta suaminya untuk membuat hidup penduduk dalam kedamaian dan kebahagiaan.
 
Namun sang suami justru menolak mendengar nasehatnya dan sangat murka. Kedua mertuanya juga membela sang pangeran dan tidak suka dengan nasihat belas kasihnya. Mereka merampas alat ajaib yang dapat  membuatnya berkomunikasi dengan keluarganya, lalu mengusirnya dari istana. Mereka lantas menjadikan dirinya sebagai perempuan penggembala domba.  
 
Sesungguhnya kawanan domba itu bukanlah domba biasa. Mereka adalah alat ajaib dan prajurit yang digunakan untuk menurunkan hujan, petir dan guntur. Namun ketika merawat kawanan domba ini, dia dianiaya secara mental dan fisik. Untuk membuatnya semakin sengsara, mereka tidak membiarkan keluarganya mengetahui kondisi Putri.
 
Membawa Pesan
 
Mendengar ini, Liu Yi tak bisa membantu banyak, namun ia merasa marah karena seseorang telah diperlakukan tidak adil karena ingin melakukan hal yang baik dan benar. Liu Yi bertanya, “Bagaimana saya dapat membantu Anda terlepas dari penderitaan ini?”
 
Puteri itu menjawab dengan perasaan haru, “Anda seorang yang jujur. Saya akan merasa berhutang budi dan berterima kasih pada Anda jika dapat membantu saya. Anda menjadi penyelamat saya.”
 
Dia meneruskan perkataannya setelah menatap Liu Yi beberapa saat, “Tolong antarkan surat kepada orang tua saya. Akan tetapi arah jalannya berbeda dan akan menunda perjalanan Anda ke Beijing, sehingga Anda tidak bisa mengikuti ujian. Bila Anda ke Beijing dulu, Anda tidak akan mempunyai waktu cukup untuk mengantarkan surat ini, dan saya merasa tak nyaman jika menunda perjalanan Anda.”
 
Tidak ada keraguan dalam benak Liu untuk menolong putri yang malang itu. Dia berkata, “Bagaimana bisa seorang pria sejati mengabaikan penderitaan orang lain untuk kepentingannya sendiri? Saya bersedia menunda ujian itu di lain waktu.” Kemudian Putri itu menyobek pakaiannya, dan melukai tangannya, serta menulis surat dengan darah dari jemarinya.
 
Surat itu tertulis, “Ayah, putri ketigamu hidup dalam penderitaan, diremehkan dan diperlakukan buruk. Dia bisa meninggal kapan pun karena lingkungan tempat tinggalnya. Mohon datang dan selamatkan putrimu sesegera mungkin.”  (Angela Wang)
 
Bersambung ke bag. 2….

Air Mengalir dan Air Tenang

Ditulis Juni 28, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Kisah Teladan

Tags: , ,
 
 Sifat intrinsik air tergantung pada sumbernya. Orang-orang tahu banyak tentang air pada masa Tiongkok kuno. Sebuah ungkapan yang sering digunakan adalah “Air dari Sungai Jing dan Sungai Wei sama sekali berbeda.”
 
Konon sangat mudah untuk mengidentifikasi sumber asal air di tempat pertemuan Sungai Jing dan Sungai Wei.
Air dari Sungai Jing terlihat kotor, sementara air dari Sungai Wei jernih. Meskipun air dari kedua sungai itu bercampur namun batas antara mereka cukup jelas.

Orang yang melakukan perjalanan di Sungai Yangtze akan melihat pemisahan warna air dimana air dari danau tertentu menyatu dengan air Sungai Yangtze. Air berbeda tidak selalu mudah bercampur.

Buku Jingshi Tongyan memuat cerita menarik tentang dua penulis China terkenal, Wang Anshi dan Su Dongpo. Wang Anshi menderita coryza. Minum teh yang direndam dengan air dari Ngarai Tengah Sungai Yangtze adalah baik untuk kesehatannya.

 
Dalam buku itu diceritakan, ketika Wang Anshi mendengar Su Dongpo akan kembali ke Szechuan setelah mengunjungi keluarganya, ia meminta Su Dongpo untuk membawa pulang air tersebut secukupnya. Ketika Su Dongpo kembali, ia membawakan Wang Anshi air yang diminta. Wang Anshi segera merebus air ini untuk menyeduh teh. Butuh waktu bagi teh yang diseduh untuk mengeluarkan warnanya.

Wang Anshi menanyai Su Dongpo, “Apakah ini air dari Ngarai Tengah?” Su Dongpo menjawab, “Kenapa? Ya, tentu saja dari Ngarai Tengah.” Wang Anshi tersenyum dan berkata, “Anda berbohong. jelas ini dari Ngarai Bawah.”

Su Dongpo sangat terkejut dan segera mengaku. “Saya begitu menikmati pemandangan Tiga Ngarai sehingga saya lupa mengenai permintaan Anda. Barulah ketika sampai di Ngarai Bawah, saya teringat.” Dia memutuskan untuk mengambil sejumlah air di sana dan berpikir tidak akan ada bedanya.

Wang Anshi mengatakan, “Dalam Shansui Jingzhu, pengamatan cermat dibukukan mengenai karakteristik air di Sungai Yangtze. Air di Ngarai Atas mengalir terlalu cepat, dan air di Ngarai Bawah mengalir terlalu lambat, sedangkan air di Ngarai Tengah mengalir dengan kecepatan menengah. Penyakit saya disebabkan oleh ‘Api Menengah ‘ dan saya perlu air dari Ngarai Tengah untuk membuka saluran energi tubuh.”

 
“Dengan menggunakan air dari Sungai Yangtze untuk merebus teh Yangxian, air Ngarai Atas menghasilkan rasa yang kuat sedangkan air Ngarai Bawah menciptakan rasa yang lemah. Rasa air Ngarai Tengah adalah di antaranya. Saat ini, warna teh berubah dengan lambat, jadi saya tahu itu dari Ngarai Bawah.”

Su Dongpo kemudian berdiri dari meja dan meminta maaf secara formal. Ketika berbicara mengenai menyeduh teh, orang dahulu memahami perbedaan antara air mengalir dan air tenang. Dalam buku Cha Jing, penulis menganjurkan menggunakan air dari “pegunungan, bagian tengah sungai dan dari sumur yang dalam.”

Selain itu, ia mengatakan bahwa air dari pegunungan harus mengalir perlahan-lahan, dan air dari arus cepat tidak dapat digunakan. Dengan kata lain, air yang mengalir perlahan akan menghasilkan teh yang bagus.

Mengenai air mengalir dan air tenang, Sun Simiao, dalam bukunya Qianjin Fang menyebutkan bahwa air yang mengalir harus digunakan untuk mengukus ginseng sementara air tenang tidak berkhasiat untuk tujuan ini.

Menangani obat dengan benar adalah masalah penting dan kadang-kadang,  hal-hal yang tampak sepele seperti kualitas air, memiliki suatu efek pada khasiat obat yang dihasilkan. Air yang mengalir dan air tenang karenanya harus digunakan untuk tujuan yang berbeda.

 

Dalam buku Mengxi Bitan, penulis menyebutkan bahwa beberapa ikan hanya bisa hidup di air tenang dan mereka akan mati jika mereka dipindahkan ke sungai. Ia juga mengatakan bahwa jenis ikan mas dapat tinggal di kedua air tenang dan air mengalir, tetapi mereka yang hidup di air yang mengalir membawa tanda putih di bagian belakang dan terasa gurih, sementara mereka yang hidup di air tenang membawa tanda hitam di bagian belakang dan terasa tidak enak.

Kebajikan Teh

Ditulis Juni 28, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Kebajikan

Tags:
 Manusia memiliki kebajikan, demikian juga halnya dengan teh. 
 
Menurut seorang penggemar teh yang terkenal di zaman Dinasti Tang yaitu Liu Zhen Liang ( 劉貞亮 )  yang menjabarkan teh dengan 10 kebajikan :
Mengurangi depresi, menghilangkan kantuk, memelihara keaktifan, melenyapkan penyakit, membuat kebajikan dan kesopanan, mengekspresikan rasa hormat, membedakan rasa yang berbeda, memelihara tubuh, berlatih Tao, dan menyempurnakan aspirasi seseorang.
 
Liu seringkali mengatakan, “Teh membawakan Tao dan keanggunan.” Seorang pendeta Buddha Jepang yang terkenal meringkas versi 10 kebajikan teh miliknya, sebagai berikut :
“Dewa pelindung akan bersedia membantu, orang tua akan dihormati dan didukung, setan akan menyerah, seseorang dapat selalu penuh semangat bahkan tanpa banyak tidur, organ internal akan berkoordinasi dengan baik, penyakit dan bencana akan menjauh, persahabatan akan harmonis, pikiran dan perilaku akan menjadi lurus, masalah dan kekhawatiran akan berhenti, dan tidak akan berada dalam kekalutan dalam menghadapi kematian.”
 
Teh telah berkembang secara bertahap dari minuman santai menjadi sebuah wahana budaya nan unik. Sekarang ia mewakili sebuah upaya pengejaran sensibilitas dan kenikmatan terhadap kehidupan, seperti halnya sebuah pelatihan diri yang memiliki kedalaman spiritual. Orang yang tertarik mencicipi teh biasanya bertirakat, mematuhi integritas, dan memperhatikan tradisi, serta menghargai persahabatan menurut buku The Classic of Tea.
 
Teh memiliki karakter alami yang segar. Selain memberikan kenikmatan sensorik, teh juga mampu mencerahkan, menjaga pikiran dan jiwa yang tenang, membantu pelatihan karakter diri, menghilangkan gangguan, dan membantu pengultivasian diri. Manfaat dari budaya teh sesuai dengan filsafat oriental, yakni menjadi kalem, tenang, tidak mudah tergerak sesuatu dan mandiri. 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.