Hidup ini perlu Kesabaran

Terkirim Maret 8, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Pedoman hidup

Tags: ,

Ada seorang guru muda di sebuah desa di pegunungan es. Karena mencintai anak-anak yang berada di atas gunung, dia melepaskan kesempatan bekerja di kota setelah tamat menjadi sarjana.

Tetapi setelah 5 tahun kemudian dia menderita penyakit kanker hati. Mendengar dia masih mengajar sekelompok anak-anak yang tumbuh di pegunungan es, saya ingin mensurvei keadaan pengunungan es itu. Karena saya sudah diam-diam memutuskan akan mengubur diri sendiri dibawah salju yang putih di pegunungan es tersebut.

Ketika saya tiba di sekolah kecil dipegunungan es ini, kepala sekolah membawa saya mencari guru muda yang sedang mengajar, melalui jendela kaca saya mengintip ke dalam ruangan kelas, saya sangat kaget, walaupun dia kelihatan kurus, rambutnya agak acak, tetapi penampilannya sama sekali tidak sama dengan orang yang sakit, dia tersenyum dengan cerah dan terlihat sangat tegar.

Ketika lonceng istirahat berbunyi, dia dengan murid-muridnya dengan gembira keluar dari ruang kelas, saya mengangkat kepala memandangnya, dia tersenyum dengan hangat kepada saya. Dia memiliki sepasang mata yang seperti lautan yang luas, begitu tenang dan dalam.

Setelah selesai wawancara, dia menemani saya melihat gunung es, memandangan ke salju putih digunung es tersebut, perasaan saya menjadi trenyuh.

“Apa yang terjadi denganmu?”

Lengannya yang kurus dengan simpati merangkul kebahu saya, di lengan bajunya saya lihat ada bekas kapur tulis.

“Disini sangat damai, alangkah baiknya jika dapat berbaring di sini berubah menjadi salju.”

Saya dengan sekuat tenaga menahan air mata yang sudah akan menetes sejak lama, di dalam hati merasa sangat menderita. Dia memandang ke saya, seperti memikirkan sesuatu.

Setelah dua hari pulang ke rumah dan telah menyelesaikan artikel saya, hati saya kembali dirundung kesepian dan kesedihan, kesedihan karena masalah perceraian, percecokan yang melelahkan yang tidak berkesudahan dan kesedihan karena putus asa.

Dengan hati kacau saya mengemas pakaian untuk perjalanan, saya membawa mantel merah kesukaan saya dan buku harian yang selama ini menemani saya. Selamat tinggal segalanya, hidup ini demikian susah, saya ingin menghabiskan hidup saya diatas pengunungan es dan meninggalkan dunia yang fana dan sumber kesengsaraan ini.

Ketika saya melangkahkan kaki keluar rumah, telepon dirumah berbunyi sudah sangat lama, saya membalikkan badan masuk kedalam rumah dengan tangan gemetar saya mengangkat telepon, diseberang sana terdengar suara seorang anak perempuan sedang berbicara, “Apakah engkau adalah tante Xihong?”.

“Benar, saya sendiri, ini dari siapa ya?”

“Saya adalah murid dari guru Zhangzhi, dia memberi saya 10 yuan dan sepucuk surat, dia memesan kepada saya harus segera mengirim surat dan menelpon ke tante, saya menghabiskan 3 jam untuk berjalan ke kantor pos di kaki gunung mengirim surat dan akhirnya telepon tersambung juga…”

“Bagaimana dengan Zhangzhi?”

“Dua hari yang lalu dia sudah pergi… “Sambil menangis anak perempuan ini berkata, “Sebelum dia meninggal dia berpesan kepada saya, bahwa dia melihat kesedihan yang mendalam di wajahmu, walaupun dia tidak tahu kesedihan apa yang terjadi padamu, tetapi dia menyuruh saya menyampaikan kepadamu, harus hidup dengan tabah dan membuat diri sendiri gembira, ini adalah pesan terakhirnya dan dia menginginkan engkau mengabulkan pesan terakhirnya.”

Mata saya bagaikan buta dengan penuh air mata saya terduduk di lantai menangis dengan sedih. Zhangzhi, seseorang yang sudah akan meninggalkan dunia ini masih teringat kepada saya yang hanya satu kali bertemu dengannya. Dia sudah pergi, tetapi dia telah menyelamatkan seseorang yang ingin menguburkan diri sendiri di pegunungan es.

Seminggu kemudian, saya menerima sepucuk amplop surat terakhir darinya. Di dalam amplop ada sebuah lukisan cat air, didalam lukisan terdapat pegunungan es dengan salju yang putih, di pegunungan salju yang sepi ini ada sehelai selendang berwarna merah, di atas selendang ada sepasang mata sedang memandang.

Dibawah lukisan cat air ini terdapat tulisan, “Engkau adalah sebuah bendera di atas salju, saya adalah sepasang mata hitam yang memperhatikan jalan hidupmu, kehidupan yang indah ini memerlukan kesabaran. Harus selalu tabah, tenangkan batinmu, dari temanmu Zhangzhi.”

Air mata menetes tanpa berhenti dari mata saya, batin yang tertekan serta yang sudah lama kehilangan cinta tiba-tiba terbuka, gelombang panas serasa mengalir dengan deras melalui pembuluh darah saya. Saya membingkai foto ini dengan bingkai warna putih gading dan mengantungnya di dalam kamar tidur saya.

Mereka memancarkan cinta kasih yang tanpa pamrih, sehingga membuat hati saya yang telah lama beku kembali memancarkan cahaya kasih dan ketegaran. Hadiah dari mantan sahabat muda berusia 26 tahun yang menjadi guru disekolah dasar di pengunungan es, yang mempunyai sepasang mata bagaikan lautan yang dalam mempunyai vitalitas dan keceriaan hidup, dialah yang mengajarkan kepada saya pada saat hati saya bagaikan es yang membeku di pegunungan berubah menjadi hangat dan penuh vitalitas.

Pesan Moral : Hidup yang penuh keceriaan ini perlu kesabaran, kesabaran dan bertahan dapat menempah hidup ini menjadi lebih tegar, lebih gembira, dengan demikian kita bisa menguasai ketenangan batin dengan tangan kita sendiri

Menghidupkan Moralitas Peradaban

Terkirim Maret 8, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Kisah Teladan

Tags: ,

Kebudayaan Tiongkok selama lima ribu tahun meliputi segala sesuatu tentang peradaban manusia. Ini telah ditunjukkan dengan kekuatan yang besar dalam integrasi dan vitalitas. Keterbukaan yang luas ini tercermin dalam prinsip-prinsip keragaman budaya dan keterbukaan, dan melayani untuk menciptakan pengaturan khusus dan tradisi “menyelaraskan segala sesuatunya dari perbedaan sifat” dan “menjadi toleran terhadap berbagai jenis orang”. 

 
Hal ini mengikuti prinsip “menjaga keselarasan sementara mengakui perbedaan” dan “mencari kesamaan dalam menyikapi perbedaan”. Semangatnya dalam melihat dunia luar dengan kebajikan yang mendalam, dan prinsip filosofisnya “harmoni” sepenuhnya tercermin dalam doktrinnya Taoisme yaitu “tanpa aksi”, pemikiran Konfusius adalah “kebajikan dan kebenaran”, dan spirit dari aliran Buddha di jiwai oleh “belas kasih”. 
 
 
Seperti Lao Zi berkata, “Kelembutan dapat menangani kekerasan, “menjadi sebuah gunung yang tinggi dengan tidak menolak apapun bergenggam-genggam tanah; membentuk lautan besar dengan tidak meninggalkan setiap sungai-sungai kecil.” Masa Dinasti Tang adalah yang paling makmur, kehidupan politiknya teratur; perekonomiannya makmur, dan budaya yang berwawasan luas. 
 
Ketika prinsip-prinsip Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme yang dipromosikan secara luas, itu memungkinkan masyarakat untuk mempertahankan standar moralitas yang cukup tinggi, mencapai kecemerlangan yang menggugah perhatian dunia dan memengaruhi negara-negara lain.
 
 
Budaya tradisional Tiongkok memperhatikan kebajikan, menyesuaikan dengan mandat dari Langit, puas dengan kehidupan yang sederhana namun saleh, menjadi ketat dengan diri sendiri dalam semua aspek sementara menjadi toleran terhadap orang lain, berpikir tentang orang lain dan membantu orang lain. 
 
Lao Zi menganjurkan bahwa salah satu harus mengikuti Tao dalam berperilaku, bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip, mengarahkan tindakan seseorang menurut keadaan, membiarkan segalanya terjadi secara alami, dan menjadi tenang dan toleran. Konfusius percaya bahwa orang harus menunjukkan belas kasih kepada semua orang. Mencius berkata, “Kebajikan tertinggi dari seorang pria untuk bersikap baik terhadap orang lain.”
 
 
Dalam budaya tradisional Tiongkok, ajaran-ajaran dan konsep-konsep Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme berpengaruh sangat mendalam bagi masyarakat Tiongkok dari generasi ke generasi. Orang diajarkan mengejar kebenaran dan kebajikan sebagai hal yang paling penting, dan mereka tetap teguh pada prinsip-prinsip mereka, terlepas dari keadaan. Zhuanzi pernah berkata, “Adalah kemuliaan terbesar sebagai manusia jika bersikap seperti Dewa. Dia tidak akan merasakan panas jika danau terbakar, tidak akan merasakan dingin jika sungai beku, dan tidak tergoyahkan oleh ganasnya petir dan angin. 
 
 
Selama ribuan tahun, orang-orang dengan standar kebajikan tinggi secara luas dipuji, seperti Tao Yuanming, yang menolak bantuan  untuk keuntungan pribadi; Zhu Geliang, yang bisa meramalkan peristiwa; Yue Fei, yang terkenal dengan kesetiaannya kepada negara; Lu You, yang sangat prihatin tentang negara dan rakyat.
 
Orang-orang ini merupakan tulang punggung bangsa Tiongkok. Mereka telah mengerti prinsip kehilangan dan memperoleh; mereka adalah pribadi yang lurus dan tidak korup, peduli terhadap orang lain dan setia kepada negara. Kegagahan mereka tercatat dalam sejarah dan telah bersinar turun-temurun selama ribuan tahun. Nilai-nilai tersebut dan pengejaran kebenaran yang telah mendorong bangsa Tiongkok maju melalui kesukaran dan kesulitan sepanjang sejarahnya yang panjang.
 
 
Kebudayaan tradisional diberikan kepada manusia oleh para Dewa, dan manusia diciptakan oleh Tuhan. Inti dari ajaran tradisional dan keyakinan lurus adalah mengajar orang untuk menjadi baik dan bertindak sesuai dengan hukum alam semesta, sehingga tercapai keselarasan antara manusia dan alam semesta. 
 
Tujuan dan makna yang terinspirasi oleh kebudayaan Dewa terletak dalam membimbing orang untuk mengukur segala sesuatu dengan standar moral dan untuk mempertahankan keadaan yang lurus terhadap pemahaman prinsip-prinsip yang menentukan “baik dan buruk” serta “lurus dan jahat”.  Ini juga mendorong orang untuk mencari kebenaran sehingga diri sejati mereka akan memiliki masa depan yang indah. Nilai-nilai moral dan makna  yang mendalam juga terdiri dan juga bahkan lebih penting, sebuah misi suci yang diberikan oleh sejarah. 
 
 
Ajaran Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme merupakan inti dari kebudayaan tradisional Tiongkok, yang tidak hanya memengaruhi sikap mental masyarakat, tetapi juga mendorong kepercayaan umum dan integritas bangsa Tiongkok. Karakteristik nasional tercermin dalam kebudayaan Tiongkok termasuk menghormati Langit dan Dewa, juga sopan santun dan kebenaran, serta kebajikan dan kebaikan. Pengajaran Tao menempatkan penekanan pada “kebenaran”, sedangkan ajaran Buddhisme menekankan “belas kasih”. Konfusianisme memberikan perhatian “kebajikan, keadilan, tata cara, kebijaksanaan dan kepercayaan”. 
 
 
Semua ini merefleksikan pencarian manusia untuk memahami esensi hidup dan pencerahan, serta jawaban atas pertanyaan seperti dari mana manusia datang, kemana mereka akan kembali, apakah ada makna yang lebih mendalam dari kehidupan ini, bagaimana manusia harus bersikap, dan bagaimana mereka dapat meningkatkan moralitas mereka untuk mencapai standar bagi Buddha, Tao dan Dewa. Mereka juga menawarkan bimbingan spiritual. 

Dalam perasaan tertentu, sejarah ke-24 dinasti di Tiongkok merupakan kumpulan biografi terhadap kebenaran dan keyakinan, yang ditandai dengan contoh-contoh yang menunjukkan, “Seseorang tidak boleh terlibat dalam perilaku yang lepas kontrol dari moralitas meskipun dia itu kaya; seseorang tidak seharusnya tergerak meskipun dia miskin; seseorang tidak seharusnya menaklukkan dengan kekuasaan dan kekuatan militer.”

Titik awal moralitas budaya tradisional adalah kode etik dan mengandalkan peningkatan spiritual, yang tidak hanya menjadi sumber spiritualitas tak terbatas bagi generasi selanjutnya, namun juga menyumbang secara langsung bagi pertumbuhan yang kuat dan peningkatan literatur tradisional Tiongkok, musik, lukisan, kaligrafi dan semua jenis seni. Makna batin yang lebih mendalam dari sudut pandang moralitas tradisional Tiongkok hanya dapat dipahami dan dialami melalui peningkatan spiritual dan moralitas dengan keyakinan yang benar.

Kekuatan moralitas tradisional dan kepercayaan dapat mengakhiri perselisihan dan konflik dunia, serta memberikan kedamaian yang lebih mendalam. Dalam menghadapi urusan dunia yang kacau dan segala kesulitan, kekuatan ini dapat memungkinkan orang untuk memiliki sebidang tanah murni dalam jiwa mereka dan mempertahankan kedamaian ini. 

Dalam menghadapi konflik antara kepentingan pribadi dan moralitas, memungkinkan orang untuk tetap mempertahankan garis batas moralitasnya sehingga mereka tidak menjadi kehilangan arah dan bingung, tidak mengkhianati keinginan dan hati nurani mereka, tidak jatuh pada tingkat bawah, dan selalu melihat harapan.

Jika orang dapat mengikuti prinsip-prinsip Langit, mereka bahkan dapat menjadi orang bijak atau orang berbakat dasar besar ataupun Dewa dan Buddha yang  mengesahkan Tao besar, menyelamatkan makhluk hidup, dan menjadi abadi. Jika moralitas peradaban ini hilang, kejahatan cenderung akan menemukan jalan mereka untuk mendorong orang ke jalan sesat

Biksu Gila, Menyapu Penghianat Bangsa

Terkirim Februari 9, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Sejarah Tiongkok

Tags: , ,

Seorang biksu yang berlagak gila menyindir seorang perdana menteri yang berpura-pura baik tapi hatinya busuk. Pengkhianat bangsa ini tak berkutik menghadapi tingkah laku biksu yang dijuluki “Sepuluh Tak Sempurna” ini.

Di balai 500-Lohan Kuil Chichuang Xiyuan, Provinsi Sucou, China terdapat sebuah arca “biksu gila” yang terbuat dari tanah liat.

Pada tubuhnya terdapat sepuluh cacat yakni, mulut miring, bongkok, mata juling, telinga gajah, kepala kudisan, kaki jinjit, tangan cakar, bahu miring, dada busung ditambah lagi hidung bengkok, maka dijuluki biksu “Sepuluh Tak Sempurna”. Walaupun patung ini berwajah aneh dan cacat, namun tidak jelek, karya ini sangat luar biasa, terutama pita di pinggangnya itu, persis seperti pita sutra asli saja.

 
Menurut legenda, sebenarnya “biksu gila” itu berasal dari seorang cendekiawan miskin, biasanya ia suka memperbincangkan kecurangan pemerintah kerajaan dan mengecam peristiwa besar dunia, beberapa kali mengikuti ujian kerajaan, selalu menyindir pedas serta menyampaikan ketidakpuasan melalui risalahnya, oleh sebab itu, walau dia bernyali besar serta penuh disiplin ilmu, tapi saat berusia 30 tahun, tidak pernah meraih gelar sarjana apa pun. Dia tahu persis kondisi sosiallah yang tidak baik, dia kecewa terhadap dunia ini lalu masuklah ke kuil untuk menjadi seorang biksu tukang masak, kelakuan sehari-hari seperti orang gila saja dan selalu mengoceh terus, oleh karena itu dijuluki “Biksu Gila”.
 
Pada suatu tahun, Cin Wusu ( seorang panglima tentara Cin ) mengirim pasukan, menyerang dataran tengah Tiongkok, berturut-turut menggunakan dua intrik jahat secara beruntun yakni kuda pincang berantai dan gasing besi kopong. Seorang jenderal yang setia dan abdi negara bernama Yue-Fei, memimpin pasukan menghadangnya, dia berhasil mematahkan intrik-intrik jahat Cin Wusu dan memukulnya babak belur.
 
Justru pada saat itulah, seorang perdana menteri bernama Chinkui yang jahat, licik serta kejam itu diam-diam bersekongkol dengan Cin Wusu, ia berkonspirasi dan mengatur siasat dengan sang istri dengan mencatut nama kaisar mengeluarkan dekrit palsu dan memerintahkan Yue-Fei kembali ke ibukota, kemudian mengkhianatinya dengan kejam. 
 
Pada pagi hari, hari pertama tahun baru Imlek, Chinkui membawa istrinya sembahyang ke vihara, mereka berhenti sejenak di depannya dan tampak di alun-alun pas di depan balairung yang megah itu ada beberapa pohon pinus hijau yang subur, tingginya hingga ke ujung langit, di sampingnya terdapat seorang biksu pengemis berpakaian compang-camping sedang menebang sebatang pohon kui ( kesturi ), Chinkui melihat pohon itu hijau dan segar, tidak tampak seperti pohon berpenyakit, tapi mengapa justru biksu ini menebangnya? Lalu menghampiri sambil bertanya, “Semestinya memohon tuah di hari pertama di tahun baru Imlek ini, tapi mengapa justru pohon yang masih bagus ini ditebangnya?” 
 
Biksu gila itu menengadah, ternyata adalah Chinkui. Tampak dia berjubah merah pakaian kebesaran istana, berlagak anggun dan lapang dada, namun wajahnya penuh kepicikan, sepasang mata segitiganya licin sedang berputar-putar. Biksu menjawab dengan nada santai: “Di dalam pohon ini, ditumbuhi kutu berhati hitam batang pohon termakan habis olehnya, jika tidak segera ditebang maka mungkin pohon pinus di sebelahnya akan mengalami nasib buruk”. Chinkui lalu bertanya.“Kalau begitu digergaji saja, buat apa menggali akarnya membuang tenaga begitu besar?” Biksu gila itu menimpali, “Astaga, pejabat tinggi seperti Anda ini kok prinsip ini pun juga tidak mengerti? 
 
Ada pepatah kuno mengatakan,” kalau ingin membunuh ular seharusnya dihantam tujuh cun dan menebang pohon pun harus dimulai dari akarnya.” Saya menjadi seorang biksu dan datang ke sini, sudah mengetahui dengan jelas bahwa pohon kesturi ini bukanlah barang baik. Coba lihat, daunnya seperti daun sipres, namun batang pohonnya mirip pinus, kalau dibilang kuda ya bukan apalagi keledai, tidak keruan”. Begitu mendengar Chinkui mengetahui bahwa kata-katanya itu mengandung sindiran, dalam hatinya sangatlah tidak senang. 
 
Hatinya berpikir: Hari pertama tahun baru, belum lagi menunaikan sembahyangnya, malah keburu dihantam pentung oleh biksu. Dari air mukanya tampak rasa canggung. Istrinya melihat situasi tidak menguntungkan, lalu berbisik kepadanya: “Cepatlah pergi sembahyang saja.” 
 
Chinkui membuang ludah, lalu menuju balairung dengan lenggak-lenggok. Istrinya membantu dia menyalakan lilin merah serta membakar dupa cendana di depan Buddha Tathagata. Dengan rasa hormat dia berlutut di atas bantalan, bersembah sujud berkali-kali sembari berdoa. Setelah selesai sembahyang tampak hari masih pagi, lalu dia berjalan keliling ke dalam kuil. Ketika berada di ruang makan, terciumlah bau wangi; ditengoknya ke dalam, tampak biksu tukang masak memegang paha anjing di tangan, sedang tangan lainnya memegang gelas berisikan arak, dengan kepala miring sedang makan daging dengan lahap. 
 
Sambil makan ia bergumam, “Daging anjing betina kuning ini amat wangi!” Hati istri Chinkui tercekam sejenak, lalu menarik lengan baju suaminya dan menunjuk ke arah biksu sambil berkata, “Coba lihat biksu yang sedang bakar api itu berbuat dosa, berani-beraninya menyantap daging anjing!” Hati Chinkui sangat dongkol! Dia berpikir dalam hatinya, bukankah istrinya yang dimaksud dengan anjing kuning itu? Tetapi Huang (kuning) ini bukan Wang (nama sang istri) sebagai yang dimaksud itu, tetapi cari sana cari sini tidak bisa didapati kesalahannya. Di saat dia sedang berpikir, sang istri berkata, “Di tempat kuil Buddha yang bersih dan suci, dilarang membunuh segala makhluk hidup, mengapa Anda sebagai biksu justru berani-beraninya makan daging anjing di sini?” 
 
Biksu gila itu berkata, “Anda sebagai seorang wanita kok tidak tahu, bahwa Zhang Da Di itu makan daging beku, dari dulu sudah ada peraturannya. Apalagi yang saya makan itu adalah daging anjing jahat. Anjing kuning ini berhati busuk dan jahat, banyak orang baik mati karena gigitannya, semua orang sudah tidak tahan lagi ingin cepat-cepat mencincang dagingnya, namun yang saya makan itu hanya pahanya saja, hitung-hitung sudah untung baginya!” 
 
Wang, sang istri itu kepentung lagi, maka cepat-cepatlah dia menuju keluar bersama sang suami, ketika sampai di depan kuil dan baru mau naik ke jembatan, tiba-tiba Chinkui melihat ada tempelan kertas kuning di atas tembok, dengan tulisan sebuah puisi mencang-mencong di atasnya, “Jika ingin menjinakkan harimau itu gampang tapi kalau hendak melepasnya itu sulit, siasat yang dibuat di Jendela Timur sana mengungguli intrik beruntun Cin Wusu, yang menyebalkan ialah wanita ini banyak mulut, berusaha menghentikan biksu tua karena hati ketakutan.”
 
Chinkui termangu-mangu. Istrinya mengikuti sorotan mata suaminya, waduh! Bukankah yang dimaksud dalam puisi itu adalah kejadian di paviliun Fengpo? Mereka saling memandang satu sama lain dan tercengang. Mulut Chinkui layaknya tersedak tulang, lama sekali baru terpatah-patah menggerutu: “Protes sudah, protes! Sungguh keterlaluan!” Saat itu, kebetulan seorang kepala kuil keluar dari dalam. Muka Chinkui pucat kelabu, lalu bertanya kepada kepala biksu itu dengan nada gertak, “Siapa yang menulis puisi ini, cepat cari sana!” Biksu mendengar nada ucapannya merasakan orang tersebut mungkin ada bekingnya, maka berani melawan lalu berkata dengan gemetaran, “Biar saya yang periksa ke dalam.”
 
Tak lama kemudian, biksu kepala membawa datang seorang biksu, satu tangan memegang sebatang pentungan, sedangkan tangan lainnya menyandang sebuah sapu bambu, datang terpopoh-popoh dengan kaki yang pedok. Suami-istri Chinkui melihat, astaga, bukankah biksu pemakan daging anjing itu? Lalu sengaja mengarah kepadanya: “Saya kira siapa yang tulis, eh rupanya seorang biksu dekil yang berambut kusut dan muka kotor ini!” 
 
Biksu Gila menjawab dengan sinis, “Disangka siapa yang lagi memanggil saya, rupanya gentong tukang makan dalam tapi mengabdi orang luar.”. Chinkui sangat marah dan berkata keras, “Apa kamu sudah mabuk oleh daging anjing, biksu pengemis, mengapa tidak berlutut begitu ketemu saya?” Biksu mengibas kedua tangannya serta mengerahkan kaki yang pincang, lalu menunjuk ke lutut dan berkata, “Borok ini sedang kumat, tidak bisa berlutut”. 
 
Chinkui mendengar dari kata-kata biksu tahu bahwa dia itu sungguh lihai, lalu bola matanya berputar, manatapi jubah kasaya biksu yang rombeng dan membentaknya, “Coba lihat kamu menghadap saya dengan baju rombeng begini, apa jadinya dengan sopan santunmu itu? Masa tidak ada tata kerama sedikit pun sebagai seorang biksu?” 
 
Hei, hei! Dengan menertawainya sejenak Biksu Gila lalu berkata, “Anda sebagai seorang pembesar dengan pakaian dan hidangan serba mewah dan mahal, mengerti akan disiplin ilmu serta berakal sehat, kok sampai hati berbicara semacam ini? Janganlah cuma mementingkan pakaian tapi tidak mementingkan manusianya! Jangan melihat wajah luar saya itu jelek, namun hati saya jujur dan terbuka. Tidak seperti tuan besar yang bertopi kerajaan, dengan jubah merah kebesaran, memang kelihatannya bagus, tapi jiwanya jahat dan penuh kelicikan, hanya melakukan hal-hal yang berdosa.”
 
Chinkui seketika itu tak dapat menjawabnya. Sang istri melihat suaminya dalam keadaan terjepit, hatinya sungguh sedih, tiba-tiba melihat tangan biksu memegang sebuah tongkat pengaduk tepung, disangka alat peniup arang bara, seperti mendapat dewa penolong saja, wajahnya berubah menjadi kecut, lalu menghardik biksu: “Jangan engkau berlagak bodoh dan pura-pura gila! Apa-apaan ini kok alat peniup arang itu tidak ada lubangnya?” Biksu tahu bahwa dia ingin mencari-cari kesalahan orang, tak bisa tahan lagi dengan berdehem, lalu menjawab, “Alat peniup arang saya ini tidak boleh ada lubangnya, jika ada lubangnya dia akan bersekongkol dengan komplotan asing!” 
 
Kata-kata ini bagaikan sebilah pedang tajam, menusuk tembus ke ulu hati Chinkui sehingga membuatnya sangat berang, dengan bengis berteriak, “Melihat sapu kamu yang masih baru sekali, pasti seorang biksu malas jika bukan, lantas apa?” Biksu pun membalas dengan nada sangat keras, “Saya dibilang malas? Sapuku ini bukan digunakan untuk menyapu lantai, tapi untuk menyapu bersih semua bajingan pengkhianat bangsa!” Langsung saja mengacungkan sapunya, dan berlagak bodoh menyapu ke arah Chinkui. Sang istri yang berdiri di sampingnya, terkejut sambil berteriak minta tolong tak henti-hentinya.
 
Chinkui buru-buru mengelak ke pinggir, baru terhindar dari sapunya lalu dengan gerakan cepat sekali, ia lari terpontang-panting menuju biksu dan menarik ikat pinggangnya. Justru dengan tarikan ini membuatnya kaget sendiri, rupanya ikat pinggang yang ditarik itu, berubah menjadi seekor ular panjang, dengan mulut ternganga besar serta lidahnya yang merah darah itu menjulur keluar terus menuju ke muka Chinkui. Sehingga membuat suami-istri itu takut bukan kepalang dan pingsan seketika. Setelah siuman, biksu itu telah hilang entah ke mana.
Kejadian ini kemudian dijuluki “Feng-Seng-Sau-Chin”. Orang-orang pun sangat menghormati sikap biksu itu, lalu mengeramatkannya sebagai Bodhisattva, di balai Lohan Kuil Xiyuan didirikan sebuah arca, generasi selanjutnya menghormati dan memujanya sepanjang zaman.

Asal Usul Xi Hu (West Lake)

Terkirim Februari 9, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Sejarah Tiongkok

Tags: ,

Asal usul Xi Hu (West Lake), ada banyak mitos indah serta legenda yang beredar di kalangan rakyat. Konon pada zaman dahulu kala, naga giok dan phoenix emas di pulau dewa menemukan sebuah giok putih. Mereka memoles batu itu selama bertahun-tahun, hingga menjelma menjadi sebuah mutiara yang menawan. Mutiara berharga ini jika menyinarkan sinarnya ke sebuah arah, maka pepohonan di tempat arah itu berubah menjadi hijau dan rimbun, bunga-bunga bermekaran. 

Namun ketika Ibu Permaisuri Langit mengetahui, ia mengirim bala tentara langit untuk merebut mutiara itu. Naga giok dan phoenix emas segera meminta kembali mutiara tersebut, tetapi Ibu Permaisuri tidak mengizinkannya. Maka terjadilah perebutan, dan ketika tangan Ibu Permaisuri lengah, mutiara jatuh ke dunia manusia, menjadi Xi Hu yang jernih bercahaya. Naga giok serta phoenix emas juga ikut turun, menjadi gunung naga giok( Gunung Yuhuang ) dan gunung phoenix, selamanya menjaga Xi Hu.

Sebenarnya Xi Hu adalah sebuah laguna. Menurut catatan sejarah, pada masa dinasti Qin, Xi Hu masih merupakan teluk yang menyambung dengan sungai Qiantang. Gunung Wu dan gunung Baoshi yang menjulang di utara dan selatan Xi Hu, adalah dua tanjung yang melingkupi teluk ini. Belakangan, karena dorongan air pasang, terkumpullah pasir dan tanah di dua tanjung tersebut, lambat laun menjadi daratan pasir. Sejak itu semakin lama daratan ini bertambah besar ke timur, selatan dan utara. Akhirnya menjadikan gunung Wu dan gunung Baoshi menyambung menjadi satu, membentuk sebuah dataran, menjadikan teluk serta sungai Qiantang terpisah. Teluk berubah menjadi danau, yaitu Xi Hu.

Mengenai nama “Xi Hu”, disebut paling awal pada dinasti Tang. Sebelum dinasti Tang, Xi Hu pernah disebut sebagai Wulin Shui, Ming Sheng Hu, Jin Niu Hu, Long Chuan, Qian Yuan, Qiantang Hu, Shang Hu. Pada masa dinasti Song, Su Dongpo ketika tinggal di Hangzhou, memuji keindahan Xi Hu, “Cahaya riak air terlihat indah, pemandangan gunung di kala hujan terlihat remang-remang; membandingkan Xi Hu dengan Xi Shi, riasan tipis maupun tebal semua sama indahnya.” Penyair dengan unik membandingkan Xi Hu dengan wanita cantik zaman dulu yang bernama Xi Shi. Maka Xi Hu pun juga dikenal dengan nama “Xi Zi Hu”.

Asal Usul Bakpao

Terkirim Februari 9, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Sejarah Tiongkok

Tags:

Bakpao (Hanzi: 肉包, hanyu pinyin: roubao) merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia.

Bakpao sendiri berarti harfiah adalah baozi yang berisi daging. Baozi sendiri dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran, serikaya manis, selai kacang kedelai, kacang azuki, kacang hijau,dan sebagainya, sesuai selera.

Bakpao yang berisi daging ayam dinamakan kehpao. Kulit bakpao dibuat dari adonan tepung terigu yang setelah diberikan isian, lalu dikukus sampai mengembang dan matang. Pao itu berati “bungkusan”, Bakpao berarti “Bungkusan-bak” , bak itu artinya daging.

Untuk membedakan bakpao tanpa daging (vegetarian) dari bakpao berdaging biasanya di atas bakpao diberi titikan warna.

Sejarah Bakpao sendiri berasal dari salah satu bagian kecil dari roman terbaik sepanjang masa, Sānguó Yǎnyì. Zhuge Liang (181 – 234) adalah salah satu ahli strategis terbaik China, juga sebagai perdana menteri, insinyur, ilmuwan, dan penemu legendaris bakpao.

Cerita ini berawal pada zaman tiga negara (sam kok) ketika terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok, perdana menteri Tiongkok saat itu, Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di selatan itu, terkenal dengan sebutan ‘The Southern Campaign’ – Suku selatan itu disebut juga ‘Nanman’ atau ‘orang barbar dari selatan’. Raja di daerah selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo.

Tak lama setelah Liang sampai di daerah selatan itu, Liang sudah mengalahkan Meng Huo 7 kali dan membebaskan 7 kali juga, dimana pada saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada Shu Guo (saat itu belum ada sebutan Zhong Guo karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu, Wu, Wei).

Setiap kali membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jenderal-jenderalnya: “ Kenapa dia dibebaskan ? Bagaimana jika dia memberontak lagi? ”, Liang dengan tenang menjawab: “ Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah mengeluarkan tanganku dari saku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya ”

Zhuge Liang tahu jika Meng Huo ditangkap dan dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya dan memberontak ke Shu, karena itu dia pikir lebih baik membuat pemimpin daerah selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya dan Meng Huo bisa memimpin daerah selatan untuk setia kepada Shu.

Pada peperangan yang terakhir, yang ketujuh kalinya, Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan. Dilembah itu Liang menaruh kereta pengangkut makanan. Ketika melihat kereta itu, Meng Huo langsung tertarik dan memimpin pasukannya masuk ke lembah itu.

Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu! Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api. Terjadi ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo.

Kemenangan ini tidak membuat Liang senang, ia hanya agak menyesali: “Jasaku sangat besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Langit(Tian/Tuhan); semoga Langit berkenan mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.” Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Liang.

Ketika Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata: “ Silahkan anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembali ”. Mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: “ Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan! Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi!! Meskipun aku tidak punya adat istiadat, aku masih punya upacara keagamaan yang masih menjunjung etika. Tidak, aku tidak sehina itu! ” Setelah kejadian ini, suku selatan tidak pernah memberontak lagi kepada Shu.

Ketika dalam perjalanan akan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang harus melewati sungai besar. Di sungai itu Liang tertahan karena selalu saja ada gelombang besar dan badai ketika pasukan Shu akan menyeberang. Zhuge Liang kemudian meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantar Liang dan Meng Huo berkata: “Sejak zaman nenek moyang kami, orang yang ingin melewati sungai itu harus melemparkan 50 kepala manusia untuk persembahan kepada roh sungai ”

Karena Liang tidak mau membuat pertumpahan darah lagi, ia membuat kue yang menyerupai kepala manusia : bulat namun rata didasarnya, dan kue ini disebut bakpao (baozi).

Asal Usul 4 Sungai Besar Di Tiongkok

Terkirim Februari 9, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Sejarah Tiongkok

Tags: ,
Dijaman dahulu, tidak ada sungai atau pun danau di Bumi, yang ada hanya Laut Timur. Di laut ini tinggal empat naga yaitu : Naga Panjang, Naga Kuning, Naga Hitam, dan Naga Mutiara.  
 
Suatu hari, ketika mereka sedang terbang dari laut ke langit untuk bermain di awan, Naga Mutiara menunjuk ke bumi dan bersedih sehingga membuat Naga yang lain keluar untuk datang dan melihat.  

Di Bumi, mereka melihat banyak orang yang mempersembahkan buah-buahan, kue dan membakar dupa saat mereka berdoa. Ada seorang wanita yang sudah tua dan berambut putih, berlutut di tanah dengan menggendong seorang anak yang kurus dipunggungnya, sedang berdoa, ” Mohon Tuhan mengirimkan hujan, untuk memberikan anak-anak kami beras untuk dimakan”.

 
Memang sudah lama musim kemarau dan tidak ada hujan yang turun, sehingga semua tanaman telah layu, rumput berubah menjadi kuning dan tanah menjadi retak di bawah terik matahari. “Kasihan sekali mereka !” kata Naga Kuning. “Mereka akan mati, jika tidak segera turun hujan!”.  
 

Naga Panjang mengangguk setuju dan kemudian mengusulkan agar mereka segera pergi dan meminta kepada Kaisar Langit untuk menurunkan hujan. Dia kemudian melompat ke awan dan terbang menuju Istana Surgawi dengan naga lain yang mengikuti di belakangnya.

Sebagai pemimpin atas semua urusan di langit dan bumi, Kaisar Jade tidak senang melihat Empat Naga datang masuk bergegas ke Istananya. “Mengapa kalian datang ke sini dan bukan tinggal di laut dan berperilaku sopan?” Naga Panjang melangkah maju ke depan dan berkata, “tanaman di bumi sudah layu dan mati, Yang Mulia. Saya mohon Anda untuk menurunkan hujan dengan segera!.”  

Sunga Huang He
Kaisar Giok berpura-pura setuju dan meresponnya, “Baiklah, kalian boleh kembali dulu dan saya akan mengirimkan hujan besok.” Empat Naga kemudian mengucapkan terima kasih pada Kaisar Langit dan terbang dengan senang hati kembali ke laut. Sepuluh hari telah berlalu, tapi  setetes hujan pun tidak ada yang turun ke bumi. Orang-orang yang menderita sudah semakin banyak, ada beberapa yang menjadikan kulit kayu dan akar untuk dijadikan makanan. Ada orang yang terpaksa memakan tanah liat putih ketika mereka tak ada lagi makanan untuk dimakan. Melihat ini hal ini, Empat Naga merasa kasihan pada orang-orang karena mereka tahu Kaisar Langit hanya peduli tentang kesenangan dan tidak pernah peduli dan memperhatikan manusia.
 
Sungai Zhujiang
Mereka kemudian menyimpulkan, hanya dengan mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri untuk meringankan penderitaan orang-orang dari penderitaan mereka. Melihat laut yang luas, Naga Panjang mengatakan dia punya ide. “Lihat, bukankah ada banyak air di laut di mana kita hidup, Kita dapat mengisap dan menyemburkannya ke arah langit.. Air itu akan menjadi seperti air hujan dan turun untuk menyelamatkan rakyat dan tanaman mereka!”.
 
“Ide yang bagus!” kata yang lain. “Tapi”, Naga Panjang menambahkan setelah berpikir sejenak, “Kita akan disalahkan, jika Kaisar Langit tahu hal ini.”
“Saya akan melakukan apapun untuk menyelamatkan orang-orang!,” kata Naga Kuning.
“Ayo kita mulai, Kita tidak akan menyesalkan perbuatan kita.” sambut Naga hitam dan Naga Mutiara dengan penuh semangat.
 
Kemudian mereka pun bersama-sama terbang ke laut, meraup air di mulut mereka dan terbang ke langit dan menyemburkan air di seluruh bumi. Empat Naga terbang bolak-balik, sehingga membuat langit gelap dan tak lama kemudian air laut menjadi air hujan dan mengalir turun dari langit. “Ini hujan…. ini hujan!”  
 
Sungai Heilongjiang  
Orang-orang pun menangis saking senangnya. “Tanaman kami akan bisa diselamatkan!” Mereka melompat dengan suka cita seperti tangkai gandum yang mengangkat kepala mereka dan rumput yang menjulang ke atas. Dewa laut kemudian menemukan apa yang telah dilakukan oleh keempat naga dan melaporkan hal itu kepada Kaisar Langit yang membuat kaisar Langit menjadi marah, “Berani-beraninya keempat naga itu membuat hujan tanpa ijinku!”. Lalu Kaisar langit memerintahkan para Jenderal langit dan pasukannya untuk menangkap keempat Naga itu. Oleh karena perlawanan tidak seimbang, Naga tidak bisa bertahan lama sehingga berhasil ditangkap dan dibawa ke Istana Surgawi.  
 
Sungai Changjiang
“Bawa mereka dan timpa dengan empat gunung di atas tubuh mereka, sehingga mereka tidak dapat melarikan diri lagi!”, Kaisar Langit kemudian memerintahkan Dewa Gunung untuk menggunakan kekuatannya membuat empat gunung yang terbang dari jauh, berputar, mengejar dan menimpa pada keempat Naga untuk memenjarakan mereka selamanya.. Walaupun mereka dipenjara akibat dari perbuatan mereka, namun keempat Naga tidak pernah menyesali keputusan mereka dan bertekad untuk terus berbuat baik untuk membantu orang-orang. Mereka menyerahkan diri ke dalam empat sungai, yang mengalir melewati gunung-gunung tinggi dan lembah-lembah dalam, melintasi tanah dari barat ke timur dan akhirnya menuju ke laut .  
 
Dengan demikian mereka menjadi Empat Sungai Besar China yaitu :  Sungai Heilongjian (Black Dragon), sungai Huanghe (Naga Kuning), sungai Changjiang (Naga Panjang), dan sungai Zhujiang (Pearl Naga).

Tradisi Tahun Baru imlek

Terkirim Februari 9, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Imlek

Tags: ,
Dalam Kalender Cina, awal tahun jatuh di suatu tempat antara akhir Januari dan awal Februari. Pada tahun 2012 ini, Tanggal Tahun Baru Cina jatuh pada 23 Januari 2012. Menurut legenda Zodiac Cina adalah nama untuk 12 hewan yang menanggapi panggilan Buddha. Mereka tiba dalam urutan ini : tikus, sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, domba jantan, monyet, ayam, anjing dan babi. Pada tahun 2011 adalah Tahun Tikus. Melangkah ke 2012, adalah Tahun Naga.

Tahun Baru Cina juga dikenal sebagai Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi adalah hari pertama kalender (Imlek) Cina.

Dirayakan oleh orang-orang China di seluruh dunia, itu adalah hari libur besar di mana teman dan keluarga berkumpul untuk makan malam reuni dan perayaan.Sebuah kegiatan penting selama Tahun Baru imlek adalah saat untuk merayakan awal yang baru dan mencari berkah baru kebahagiaan, kedamaian dan kemakmuran. Ini adalah waktu untuk merayakan akhir musim dingin dan menyambut datangnya musim semi dengan musik Cina dan tari, lentera, pesta, teman dan keluarga, dan Drum gemilang untuk menghilangkan yang buruk dan membawa keberuntungan. Berharap kesehatan semua orang yang baik dan keberuntungan di Tahun Baru!

 

Legenda Tahun Baru Cina / Imlek

 

Konon di zaman dahulu kalah hidup seekor monster bernama nian (年) monster tersebut bertanduk tunggal, bermata besar dan berkuku tajam. Monster tersebut bertempat tinggal di dalam lautan, sepanjang tahun dia habiskan waktunya untuk tidur (seperti tidur musim dingin pada beruang). Namun setiap musim semi dia akan bangun dari tidurnya untuk mencari makanan. Makanan kesukaan monster nian tersebut adalah manusia. Bukan hanya memburuh manusia, monster tersebut juga memporak-porandakan ladang penduduk dan merusak panen.

Karena adanya monster tersebut yang memburu manusia setiap musim semi, maka penduduk selalu mengungsi ke dataran tinggi pada awal musim semi. Para penduduk selalu menyiapkan bekal makanan  selama di pengungsian mereka, dan karena tidak ada yang tau bagaimana nasib besok mereka dituntut untuk menyelesaikan hutang piutang sebelum mengungsi. Demikian juga para anak akan melakukan ronda selama orang tua mereka tidur. Tidak lupa mereka diwajibkan untuk berkumpul bersama-sama dalam keluarga supaya bisa saling menjaga.

Keadaan tersebut berlangsung cukup lama, hingga suatu musim semi seorang pengemis melewati desa tersebut untuk meminta makanan, ia mendapatkan desa dalam keadaan kosong. Ia berjalan menelusuri desa tersebut untuk mencari orang yang bisa diminta sekaligus mencari tahu menyebab hilangnya penduduk desa tersebut. Akhirnya dia menemukan seorang nenek dan menanyakan penyebab lenyapnya warga desa. Sang nenek lalu menjelaskan soal monster nian dan pengungsian penduduk.

Sang nenek yang baik hati lalu memberikan makanan kepada si pengemis. Pengemis itu lalu bertanya, kenapa nenek tidak ikut mengungsi ?. Anak dan cucu saya telah menjadi korban tahun lalu, saya sudah tua sulit ikut mengungsi, jika monster nian datang saya akan melawan sebisa saya. Si pengemis menjadi iba pada sang nenek, lalu mengatakan pada sang nenek bahwa sesungguhnya mahluk tersebut takut pada tiga hal yaitu : Mahluk yang lebih besar dan seram daripada dia, suara keras dan bising dan warna merah.

Lalu si pengemis meminta pada sang nenek untuk membiarkan dia tinggal di rumahnya malam ini, ia akan mendorong binatang ganas “Nian” pergi. Tapi tidak ada yang percaya kata-katanya. Wanita tua itu mencoba membujuknya untuk menyembunyikan dirinya di pegunungan. Tetapi orang tua itu bersikeras untuk tinggal di desa.

Kemudian sang nenek ikut menyediakan kain besar untuk membuat binatang-binatangan dan mencat depan rumah menjadi merah serta berpakain merah, lalu dia mengumpulkan batang-batang bambu supaya menimbulkan suara ledakan saat dibakar.

Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya monster nian muncul si pengemis bergegas memakai kain yang telah dibuat menyerupai binatang monster serta minta sang nenek membakar batang bambu yang sudah disediakan serta memukul benda apa saja yang bisa menimbulkan suara bising. Mendapatkan sambutan demikian monster nian sangat kaget lalu terbang menuju khayangan dan tidak pernah kembali lagi.

Ternyata petasan, cahaya dan warna merah adalah apa Nian yang paling takut. Hari kedua, ketika penduduk desa datang kembali, mereka menemukan bahwa tidak ada yang rusak. Kemudian mereka tahu bahwa orang tua adalah yang abadi. Sementara itu, mereka tahu tiga harta yang bisa drive Nian pergi. Atas peristiwa kemenangan ini, penduduk desa merayakannya setiap tahun sebagai hari raya besar serta perayaan panen. Perayaan diadakan dengan cara meniru apa yang telah dilakukan oleh si pengemis dan sang nenek, juga sebagai tindakan pencegahan akan kembalinya monster nian.

Para penduduk mendatangi rumah-rumah kerabat untuk mengucapkan selamat atas terbebasnya mereka dari ancaman monster nian. Sebagai balasan, setiap keluarga menyediakan minuman, kue-kuean untuk tamu mereka, mereka juga menyediakan permen bagi anak-anak dan kertas merah bagi mereka. Demikianlah perayaan tersebut turun temurun hingga kini.
Sejak itu, setiap malam Tahun Baru, semua orang bait merah posting di pintu mereka, menyalakan petasan dan menyalakan lilin mereka terus sepanjang malam. Kebiasaan ini cepat menyebar jauh dan luas dan Tahun Baru menjadi hari libur paling penting tradisional Cina.

Setiap tahun, tujuh hari sebelum Tahun Baru Cina, berdasarkan kalender lunar Cina, disebut ” xiao nian.” Selama hari-hari ini, setiap rumah tangga mulai untuk mempersiapkan Tahun Baru mendatang.

Mereka membersihkan rumah dan membeli memperlakukan Tahun Baru khusus, seperti ayam, ikan, permen, dan sejenisnya. Setiap rumah tangga juga mempersiapkan hadiah untuk mengunjungi kerabat dan teman-teman dan membeli baju baru untuk anak-anak.

 

Pada Malam Tahun Baru, itu adalah waktu bagi seluruh keluarga untuk bertemu kembali. Di China utara, orang biasanya makan kue, karena pengucapan Cina pangsit adalah sama dengan kata “reuni.”

Oleh karena itu, pangsit melambangkan “reuni.” Orang-orang di selatan juga makan kue Tahun Baru yang merupakan berkat untuk tahun yang lebih baik. Pada 12 pagi pada hari Tahun Baru, setiap keluarga akan menyalakan petasan. Pada hari Tahun Baru, orang memakai baju baru dan indah.

Mereka pergi untuk mengunjungi orang tua dalam keluarga mereka untuk ingin mereka Happy New Year pertama. Anak-anak menjilat untuk orang dewasa dan menerima hadiah uang dibungkus dengan kertas merah. Pada hari-hari berikutnya, orang akan mengunjungi kerabat dan teman-teman untuk saling berharap Tahun Baru.

Asal Mula Chun Lian Saat Imlek

Terkirim Februari 9, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Imlek

Tags:
Setiap Tahun Baru Imlek, masyarakat di China selain makan jiaozi ( Chinese dumpling ), membakar petasan, saling mengunjungi, dan mengucapkan selamat tahun baru, juga melakukan satu hal yang mencolok, yakni tie chun lian atau menempelkan tulisan di sisi kiri dan kanan pintu rumah atau pintu gerbang.
 
Chun lian / Dun lian itu adalah sepasang tulisan di atas kertas merah. Maksud semula menempel chun lian adalah untuk mengusir hantu dalam rumah atau mencegah roh-roh jahat masuk ke dalam rumah atau suatu wilayah untuk mengganggu anggota rumah atau warga. 

 

Mengapa orang-orang di daratan China mempunyai keyakinan seperti itu? Sejarahnya ini berawal dari sebelum dinasti Qin ( 221 SM-206 SM ) dan dinasti Han ( 206 SM–220M ), orang-orang China biasanya menempatkan jimat yang terbuat dari kayu persik ( 桃木 ) di kedua sisi pintu depan rumah sebelum hari raya musim semi atau hari raya imlek. 
 
Jimat kayu persik ini adalah papan kayu yang diukir dengan nama Shen Tu ( 神荼 ) dan Yu Lei ( 郁垒 ), dimana kedua nama ini adalah nama dewa-dewa yang dipercaya dapat mengusir setan dan iblis, maka dari itu orang-orang memakai nama mereka untuk menakuti dan menjauhi mereka dari hantu-hantu dan roh-roh jahat
 
 

Pada zaman dahulu, di sebelah timur laut negeri itu, ada sebuah hutan pohon persik di atas sebuah gunung, Pohon persik bermacam-macam ukurannya, ada yang kecil, ada juga yang sangat besar. Di antara pohon persik yang ada di hutan itu, terdapat satu pohon yang sangat besar dan memiliki dua lubang pada batangnya.

 
Di dalam dua lubang itu tinggallah kakak-beradik. Sang kakak bernama Shen Tu dan si adik bernama Yu Lei. Shen Tu dan Yu Lei bahu-membahu menjaga hutan pohon persik tersebut. Di belakang hutan pohon persik  ada sebuah lubang besar mirip sebuah sumur yang besar. Lubang itu dalam sekali dan dihuni berbagai siluman dan hantu.

 

 

 

Umumnya mereka tidak berani keluar lubang dan masuk ke hutan pohon persik, karena ada dua penjaga yang sangat galak, yakni Shen Tu dan adiknya Yu Lei. Shen Tu dan Yu Lei sangat perkasa dan kuat, sampai-sampai binatang-binatang buas di gunung itu sangat takut terhadap mereka. Si harimau tua yang paling di takuti oleh para siluman pun takut terhadap Shen Tu dan Yu Lei. Jika para siluman berani macam-macam mencuri buah persikm dengan cepat Shen Tu dan Yu Lei menangkap mereka dan membuangnya ke sarang harimau untuk jadi santapan lezat harimau-harimau gunung.

 

 

 

Para siluman dan hantu tidak pernah patah arang untuk mencari jalan agar bisa berbuat jahat sesuka mereka. Suatu hari, ketua para hantu dan siluman, sebut saja Nenek Hantu, mengajak warganya untuk rapat, “Kita tidak boleh selamannya tinggal diam. Kita harus mencari jalan untuk bisa keluar dan melakukan apa yang kita suka,” katanya. 
 
Para hantu dan siluman pun menyambut dengan gembira motivasi yang di berikan oleh Si Nenek Hantu. “Rupanya Nenek Hantu adalah motivator yang sangat ulung,” demikian pendapat mereka. Lalu, seorang di antara mereka bertanya, ” Jika Shen Tu dan Yu Lei mengejar kita, bagaimana?” Para siluman dan hantu, setelah mendengar pertanyaan ini, segera kembali putus asa.

Akan tetapi, di tengah keputusasaan itu, seekor hantu cerdik berkata, “Begini, waktu Shen Tu dan Yu Lei tidur kita curi saja perlengkapan dan senjata mereka. Tanpa senjata itu, mereka pasti tak akan berdaya menangkap kita”. “Usul yang sangat bagus. Jika terlaksana, pasti berhasil,” ujar seorang siluman. “

 
Tapi, siapa yang harus pergi mencuri perlengkapan dan senjata mereka?” tanya salah satu dari mereka. Tidak satu siluman dan hantu pun yang berani mengajukan diri. Mereka sangat paham akan kemampuan Shen Tu dan Yu Lei.

Tiba-tiba ada seekor hantu kecil pun mempromosikan diri, “Baik, baik, jangan khawatir, aku hantu paling kecil, mereka susah melihat aku. Biar aku yang pergi dan mencuri senjata mereka.” 

 
Sementara itu, hari sudah larut malam, dan setelah memeriksa semuanya, Shen Tu dan Yu Lei pun tertidur. Si hantu kecil mulai beraksi ke ruangan tidur Shen Tu dan Yu Lei. Hantu kecil itu agak takut juga, karena senjata itu ada di samping kepala Shen Tu dan Yu lei. 
 
Namun, mengingat bahwa jika senjata tidak diambil, mereka akan seterusnya meranam, dengan tekad yang kuat, ia mendekatinya. Shen Tu dan yu Lei tidak terbangun. Dengan semangat si hantu kecil pulang ke istana mereka. Teman-teman dan rekan sejawatnya pun menyambutnya dengan kegirangan.

“Ha-ha-ha… mereka tak akan berdaya menangkap kita lagi. Ayo, saatnya kita berpesta. Kita keluar sarang dan segera mengacaukan para penduduk desa.” Mereka dengan bangga menyambut gembira kebebasan mereka. Bahkan para siluman pun berani berteriak untuk mengganggu Shen Tu dan Yu Lei. 

 
Shen Tu dan Yu Lei bersiap menangkap para siluman pengacau, tetapi tiba-tiba mereka sadar bahwa senjata mereka sudah hilang. Mereka mencoba mencari, tetapi tidak mendapatinya. Dari kejauhan terlihat si hantu kecil sedang bermain-main dengan senjata mereka.

Shen Tu tertawa sinis sambil berkata kepada adiknya, “Para siluman itu menyangka dengan membawa senjata itu, maka kita tidak berdaya. Mereka salah, mari kita beri mereka pelajaran!” Dengan segera Shen Tu dan Yu Lei pergi mengambil sebuah dahan dari pohon persik yang paling tua dan besar. 

 
Setelah itu, mereka segera berlari ke arah siluman. Para siluman pun mulai ketakutan. Namun, Nenek Hantu berkata , “Jangan takut! Senjata andalan mereka tidak ada di tangan mereka. Mereka bisa berbuat apa terhadap kita? Ayo , kita teruskan pesta.” Mendengar ucapan Nenek Hantu, mereka pun merasa tenang.

Waktu Shen Tu dan Yu Lei datang, mereka semua malah tertawa sambil mengolok-olok, “Ha-ha-ha kalian datang ke sini mau ngapain? Apa mau cari senjata kalian? Sayang, senjata kalian sekarang sudah menjadi milik kami.” Namun, tanpa diduga, dengan cepat Shen Tu dan Yu Lei menghajar dan menangkap mereka. 

 
Dalam waktu singkat mereka semua diikat dan dilemparkan kembali ke lubang dalam sarang mereka. Rupanya Shen Tu dan Yu Lei tetaplah jagoan meski senjata andalan tidak ada di tangan mereka. Para siluman dan hantu sangat ketakutan dan tidak berani lagi macam-macam jika mendengar nama Shen Tu dan Yu Lei atau mengetahui keberadaan mereka di suatu tempat.
Sejak saat itu, penduduk desa selalu menggunakan dua lembar kertas yang terbuat dari bahan pohon persik. Pada kertas itu ditulis nama Shen Tu dan Yu Lei pada kertas lain. Kedua kertas itu lalu di tempelkan di sebelah kiri dan kanan pintu rumah atau gerbang. Kalau tahu ada dua nama yang menakutkan itu, para siluman dan hantu tidak akan berani datang mengganggu. Itulah kisah mengapa orang membuat chun lian.
 

Selama zaman dinasti Ming (1368M-1644M ), Zhu Yuan Zhang / Hong Wu Di ( 朱元璋/洪武帝, 21 October 1328–24 Juni 1398 ), raja pertama dari dinasti Ming mendukung dengan antusias rakyatnya untuk memakai Dui Lian. Bahkan sampai ketika beliau membangun ibukota di JinLing, beliau memerintahkan semua menteri-menterinya, pejabat-pejabat, dan orang-orang awam untuk menempelkan Dui Lian di setiap pintu depan rumah mereka sebelum hari raya imlek. 

 
Adat istiadat ini bertahan terus dalam masyarakat China sampai lebih dari satu millennium sampai kepada zaman 5 dinasti ( 907M-960M ), ketika nama dewa-dewa yang biasa ditulis di papan kayu persik itu kemudian digantikan dengan kalimat- kalimat yang berpasangan atau Dui Lian ini.
 
Dengan bijaksana, raja Zhu pergi ke kota dan memeriksa Dui Lian yang tertempel disetiap pintu depan rumah-rumah. Dari sejak saat itu sampai dengan sekarang ini, budaya untuk menggunakan Chun Lian dilaksanakan.

Tentu chun lian sekarang ini tidak lagi semata bertuliskan nama Shen Tu dan Yu Lei, namun boleh bermacam-macam tulisan hikmah atau berkat. Kertas merah itu sudah menjadi lambang Shen Tu dan Yu Lei, serta tulisan di atasnya adalah kata-kata mutiara atau harapan yan oleh seisi rumah diharapkan bisa terjadi pada tahun yang baru.  

 
Dui Lian ini agak unik, biasanya ada kalimat atas atau Heng Pi ( 横批 ) yang ditulis diatas pintu masuk kemudian ada Shang Lian ( 上联 ) disebelah kanan dan Xia Lian (下联) disebelah kiri. 
 
Heng Pi ini ditulis secara horizontal atau mendatar lurus diatas dan dua yang lain ditulis secara menurun atau vertical. Chun Lian dapat berdiri sendiri namun Dui Lian selalu berpasangan. Heng Pi juga tidak selalu disertakan atau ditulis. Beberapa contoh tulisan :
 
Dui Lian :

1. 上联:四面青山看画展

下联:三溪碧水听诗吟

2. 上联:三春草木如人意

下联:万里河流似利源

3. 上联:元日有杯皆进酒

下联:春来无处不飞花

4. 上联:山青水秀风光好

下联:人寿年丰喜事多

5. 上联:春自寒梅唤起

下联:香由乳燕衔来

6. 上联:大地春光好

下联:农村气象新

Chun Lian :

1. 农户有牛喜迎春

2. 牛耕碧野千畦秀

3. 牛耕芳草地

4. 牵牛花绽喜牵牛

5. 黄牛耕绿野

Heng Pi :

1. 家合万事

2. 春风送福

喜气临门

3. 春回大地

日暖人间

4. 门门喜气

户户春风

5. 大地春光好

长天晓日红

6. 春入春天春不老

福临福地福无疆

Beberapa Heng Pi yang cocok banget buat yang buka usaha atau toko nih

1. 南北东西不缺

甜酸苦辣皆全

2. 精法廉小餐特色

麻辣烫川味正宗

Menjadi Budak demi penguburan Ayahnya

Terkirim Februari 9, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Kisah Teladan

Tags: , ,

Pada zaman dinasti Han, ada seorang anak berbakti bermarga Tong. Namanya Yong. Dia berasal dari keluarga yang miskin. Setelah ayahnya meninggal, dia tidak mempunyai uang sama sekali untuk penguburan ayahnya. Dia pun tidak tega melihat jenazah ayahnya harus terlantar. Oleh karena itu dia menjual diri kepada seseorang untuk bekerja dan uangnya dipergunakan untuk penguburan ayahnya.

Setelah selesai upacara pemakaman jenazah ayahnya maka ia pun berangkat ke rumah orang yang membeli dirinya.

Dalam perjalanan ia berjumpa dengan seorang wanita. Wanita itu mengatakan dia rela menjadi istri Yong dan meminta Yong menikahinya. Yong pun setuju dan akhirnya mereka bersama-sama pergi menuju san pembeli untuk bekerja bersama-sama.

 

Sang pembeli mengatakan, “Apabila kalian telah menganyam kain (untuk kanvas) sebanyak 300 gulungan, dengan demikian cukup untuk melunasi uang pembelian dirimu, maka baru diizinkan pulang”. Tak disangka dengan adanya bantuan istri Yong maka pekerjaan menganyam kain itu selesai dalam waktu satu bulan saja.

Maka Yong pun dizinkan pulang dan dalam perjalanan pulang. Ketika sampai di bawah pohon Huai, tempat mereka bertemu dulu, maka wanita itu pamit pada Yong dan pergi melalui satu jalan kecil. Orang – orang mengatakan wanita itu adalah jelmaan seorang dewi.

Ada syair yang berbunyi demikian :

Menguburkan ayah meminjam uang saudara Khong,

Dalam perjalanan berjumpa dengan seorang Dewi untuk dijadikan istri.

Menganyam kain untuk membayar hutang,

Sikap baktinya mengharukan Tuhan.

Sun Go Kong

Terkirim Februari 9, 2012 oleh conspiracy4u
Kategori: Kisah Teladan

Tags:

Kisah Sun Go Kong Dalam Novel Klasik Tiongkok Shi You Ji

 

Wu Ch’eng-en (th. 1500 – 1582), kelahiran Shan-yang, Huai-an (sekarang propinsi Kiangsu, Tiongkok) adalah seorang penulis novel dan puisi terkenal pada dinasti Ming (1368-1644) menuliskan suatu kisah perjalanan berdasarkan cerita perjalanan Hsuan-tsang / Tang Zhang dari bukunya Ta-T’ang Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan Ke Barat semasa Dinasti T’ang Agung), yang kemudian menjadi terkenal dengan legenda Kera Sakti Sun Wu-khung (Sun Go-kong atau Sun Hou-zi) dengan judul Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan Ke Barat).  

Hsi-yu-chi diterbitkan pertama kali pada tahun 1592, 10 tahun setelah kematian Wu Ch’eng-en.

Cerita legenda Catatan Perjalanan Ke Barat tersebut terdiri dari 100 bab yang dapat dibagi atas tiga bagian utama : 

Bagian pertama dari tujuh bab menceritakan kelahiran Sun Go-kong dari sebutir telur batu dan memiliki kekuatan maha sakti yang tiada tandingannya sehingga mengacaukan kahyangan yang kemudian diturunkan dari kahyangan dan dikurung oleh Buddha Sakyamuni di dalam Wu-hsing-shan (Gunung Lima Unsur Alam) sambil menunggu pembebasannya oleh seorang bhikshu yang akan melakukan perjalanan ke Barat mengambil kitab suci.

 Bagian kedua berisi lima bab yang berkaitan dengan sejarah Hsuan-tsang dan tugas utamanya dalam melakukan perjalanan ke Barat.

Sedangkan bagian ketiga yang berisi 88 bab sisanya menceritakan keseluruhan perjalanan Hsuan-tsang/Tang Zhang dengan ketiga muridnya..

Legenda ini mencerminkan kehidupan manusia pada umumnya. Hal ini dapat ditemukan pada karakteristik para tokohnya.

1.Sun Go Kong mewakili manusia dengan keegoisan, kebencian, mudah marah, kesombongan, dan pikiran yang liar.

2. Chu Pa Chie (Cu Pat Kai) mewakili manusia dengan berbagai keinginan dan keserakahan duniawi, seperti rakus akan makanan, genit suka menggoda wanita cantik (gila wanita), menginginkan kedudukan tinggi dan gila harta benda.

3.Sha Ho Shang (Wu Ching) mewakili manusia dengan karakter lemah yang membutuhkan dukungan dari orang lain, lamban dalam berpikir, sulit menghapal sesuatu (sutra Kitab Suci), dan kebodohan batin.

Jadi mereka bertiga melambangkan Lobha, Dosa, dan Moha ( Keserakahan, Kebencian dan Kegelapan / Kebodohan Bathin )

4. Sedangkan Bhiksu suci Hsuan Tsang / Tang Zhang mewakili manusia yang telah terbebas dari penderitaan dan tercerahkan, memiliki keteguhan hati di dalam ajaran Buddha, Teguh dalam memegang sila, dan setia didalam Jalan Tengah dan berjuang keras demi kebahagiaan makhluk lain.

5. Kuda Putih tunggangan Bhiksu mewakili ajaran.

Cerita legenda kera sakti adalah dongeng mengenai perilaku manusia yang mengandung filsafat tingkat tinggi serta nasehat dan pengajaran supaya mudah dimengerti dan dipahami. Yang ini merupakan kisah nyata bhiksu tersebut yang memotivasi kita bahwa semua kesuksesan membutuhkan PERJUANGAN.

Perjuangan Biksu Kecil, Tang Zhang

Ini adalah kisah tentang seorang biksu kecil yang sejati. Pada zaman dinasti Tang, di sebuah kuil hiduplah seorang biksu kecil. Sejak kecil ia sudah menjadi biksu di kuil itu. Setiap pagi, begitu bangun tidur biksu kecil ini harus segera mulai menimba air menyapu halaman.

Seusai pelajaran pagi, dia masih harus pergi ke kota yang terletak di bawah bukit belakang kuil untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari untuk kuil itu. Setelah membeli barang yang dibutuhkan, dan tanpa adanya waktu luang dia masih harus mengerjakan sejumlah pekerjaan. Kemudian ia masih membaca kitab suci hingga larut malam.

Demikianlah kegiatannya setiap hari, setiap pagi dan senja mendengar suara gendang dan lonceng pagi di kuil hingga 10 tahun berlalu sudah. Suatu ketika, akhirnya biksu kecil mendapat sedikit waktu luang. Kemudian ia segera berbincang-bincang bersama dengan biksu kecil lainnya. Akhirnya dia mendapati bahwa semua orang ternyata hidupnya begitu santai.

Hanya dia seorang yang selalu sibuk setiap hari. Tugas membaca dan pekerjaan dari kepala biara kepadanya selalu yang paling berat. Dia tidak habis mengerti lalu bertanya pada kepala biara. Mengapa semua orang hidupnya lebih santai daripada saya? Mengapa tidak ada orang yang menyuruh mereka membaca kitab suci atau bekerja? Sedangkan saya harus bekerja tiada henti? Kepala biara hanya menundukkan kepala komat kamit memberi tanda Buddha dan tersenyum tidak menjawab.

Pada siang hari, biksu kecil ini pergi ke kota yang terletak di bawah bukit belakang membeli sekantong beras. Dalam perjalanan pulang sambil memanggul beras tiba di pintu belakang kuil, dan tampak di sana kepala biara sedang menunggunya. Kepala biara membawanya ke pintu depan kuil. Kemudian kepala biara duduk istirahat memejamkan mata. Biksu kecil tidak mengerti maksud kepala biara, akhirnya dia berdiri menunggu di samping.

Biksu kecil terus menunggu dan menunggu. Mentari sudah hampir terbenam, tiba-tiba di depan jalan muncul beberapa bayangan biksu kecil. Beberapa biksu kecil ini termenung sesaat melihat kepala biara. Kepala biara membuka matanya dan bertanya pada mereka. Pagi-pagi saya meminta kalian pergi membeli garam. Jalan di depan ini begitu dekat dan rata. Kenapa kalian baru kembali sekarang? Biksu-biksu kecil ini saling berpandangan, kemudian menjawab, “Kepala biara, dalam perjalanan kami tertawa bercanda dan menikmati pemandangan, akhirnya sekarang baru sampai. Lagi pula selama 10 tahun ini memang begitu, kan!”

Lalu kepala biara bertanya pada biksu kecil yg berdiri di samping, “kamu ke kota yang terletak di bawah bukit belakang membeli beras, jalannya berliku-liku dan jauh, harus menapaki bukit dan lembah, bahkan harus membawa beras yang berat. Kenapa waktu kamu kembali lebih awal daripada mereka?

Biksu kecil menjawab, “setiap hari dalam perjalanan saya selalu ingin cepat pergi cepat kembali. Lagipula saya berjalan harus sangat hati-hati karena memanggul barang yang berat di atas pundak, dan lama kelamaan jalannya semakin mantap dan cepat. Selama 10 tahun ini saya sudah terbiasa, dalam hati hanya ada satu tujuan tiada lagi jalanan.”

Setelah mendengarnya kepala biara lalu berkata pada semua biksu kecil. “Jalanan sudah rata. Tetapi hati tidak terpusat pada tujuan. Hanya dengan berjalan di atas jalanan yang berliku, baru bisa menempa tekad seseorang.”

Biksu kecil inilah akhirnya menjadi “xuan zhuang fa shi” (bhiksu agung dalam Budhisme). Oleh karena tempaan sejak kecil sehingga dalam perjalanannya ke barat yang serba sulit dan bahaya untuk mengambil kitab suci itu, membuat hatinya bisa selalu bersinar menuntut cahaya Dharma ( Kebenaran Universal ). Jadi, jalan yang berliku dan sulit, bukanlah halangan untuk mencapai tujuan. Sebuah tekad dan kemauan, baru merupakan kunci sukses atau gagal.

Jadi Sun Go Kong adalah salah satu tokoh utama dalam salah satu novel klasik Tiongkok “Shi You Ji” “Perjalanan ke Barat” karya Wu Cheng-en pada masa Dinasti Ming yang kemudian populer selama berabad2 lamanya baik di dalam maupun di luar Tiongkok. Dalam novelnya itu, Wu terlihat lebih menekankan tokoh Sun Go Kong daripada tokoh sejarah asli Pendeta Xuan Zang (Tang San-zhang/Tong Sam-Cong) dapat dilihat dari penokohan Pendeta Tong sebagai seorang yang baik hati namun lemah dan pengecut. Padahal dalam sejarah aslinya, Pendeta Tong mengadakan ekspedisi sendirian yang dapat membuktikan ketegarannya. Walaupun di tengah jalan ia bertemu dengan seorang teman bernama Shih Pan Tuo, namun temannya itu kemudian melarikan diri ketika mereka menemui kesulitan. Kesulitan yang dimaksud adalah perampokan oleh bandit2 di tengah jalan. Saya di suatu kesempatan menyimak tayangan tentang Pendeta Tong di channel Discovery. Oleh Discovery, Pendeta Tong difilmkan sedang dikejar2 oleh para bandit berparas Asia Tengah sebelum akhirnya sampai ke India dalam satu penggal cerita.

Riwayat Sun Go Kong dalam novel secara sekilas adalah tinggi badan 1.33 meter, pada umur 320 tahun ia menuju Gunung Hua Guo, menjadi dewa dengan gelar “Qi Tian Da Sheng” pada umur 357 tahun. 180 tahun kemudian, karena suka membangkang, ia dihukum ditimpa di bawah Gunung Wuzhi selama 500 tahun. Setelah itu, ia berguru kepada Pendeta Tong dan menjalankan perintah untuk mengawal Pendeta Tong mengambil kitab suci ke India. Ia dikisahkan adalah perwujudan dari sebuah kera batu.

Segi Indentitas Sun Go kong

Sun Go kong Memiliki Kekuatan Luar biasa, Bisa mengakut sebuah benda seberat 6750 Kg (13.500 jīn). Memiliki kecepatan tinggi jika terbang, dapat menjelajah 108,000 li (54,000 kilometers ) dalam satu lompatan. dan mengetahui 72 transformasi binatang benda dan sebagainya. Rambutnya memiliki kekuatan magis yang luar biasa, Ia juga dapat memerintah angin.

Dalam perkembangannya, karena Sun Go Kong terkenal akan kesaktiannya, muncul opini bahwa Wu mengambil tokoh Sun Go Kong muncul dari inspirasinya atas cerita Ramayana dari India yang mana juga ada mengisahkan tokoh kera sakti Hanoman. 

Di dalam kalangan sastrawan Tiongkok sendiri juga terdapat pendapat yang mendukung opini ini, namun mayoritas menolak teori ini. Juga ada yang berpendapat bahwa Wu mendapat inspirasi dari Hanoman, namun Sun Go Kong kemudian digambarkan tanpa ada kaitan sama sekali denan Hanoman India. 

Lu Xun (1881~1936) adalah Bapak Sastra Modern Tiongkok yang terkenal. Ia berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah karya Wu yang mengambil inspirasi dari cerita karya Lee Gong-zuo yang hidup di zaman Dinasti Tang. Dalam novelnya berjudul “Gu Yue Du Jing”, ia menceritakan tentang siluman sakti bergelar Huai Wo Shuei Shen yang akhirnya juga berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Buddha. 

Setelahnya ia berganti nama menjadi Wu Zi Qi. Lu Xun berpendapat bahwa Wu Cheng-en mengambil tokoh Sun Go Kong atas modifikasi Wu Zi Qi. Lalu, sastrawan lain juga berpendapat bahwa tokoh Sun Go Kong adalah asli Tiongkok karena ada seorang pendeta yang juga terkenal di masa Dinasti Tang bergelar Wu Kong (Go Kong = Hokkian), nama asli Che Chao-feng. 

Namun Hu Shi, sastrawan lain berpendapat bahwa Wu mengambil inspirasi dari Hanoman yang dikisahkan dalam cerita Ramayana. Karena ia berspekulasi bahwa tidak mungkin cerita Ramayana yang terkenal itu tidak sampai di Tiongkok. Jadi pasti ada pengaruh Hanoman pada karya Wu Cheng-en tadi. Ada pula sastrawan lain Ji Xian-lin yang berpendapat bahwa Sun Go Kong adalah Hanoman yang dimodifikasi menjadi Sun Go Kong tanpa ada kaitan sama sekali dengan Hanoman-nya sendiri kecuali sama2 merupakan kera sakti. Namun kera sakti Sun Go Kong jelas adalah perpaduan antara kepercayaan, cerita rakyat dan kreasi daripada penulisnya sendiri, Wu Cheng-en. 

Akhirnya giliran saya mengemukakan pendapat pribadi. Menurut saya, walaupun Ramayana adalah cerita lebih awal daripada Shi You Ji, namun mengatakan Sun Go Kong adalah sama dengan Hanoman adalah suatu pendapat yang tidak seluruhnya benar. Kepopuleran Ramayana yang merupakan legenda agama Hindu di Tiongkok juga tidak terbukti karena agama Hindu tidak pernah menyebar ke Tiongkok seperti halnya di Indonesia. Sun Go Kong juga bukan ciptaan dari Wu sebenarnya, karena di masa sebelumnya, Dinasti Song Selatan, telah ada dikisahkan Sun Go Kong dalam buku “Da Tang San Zang Qu Jing Shi Hua”. Bila tetap harus mengatakan Sun adalah Hanoman, maka darimana pula munculnya tokoh Zhu Ba Jie (Ti Pat Khai) ? Wu adalah seorang sastrawan dan seorang sastrawan selalu berkarya berdasarkan ilham yang muncul waktu itu.

 Ada orang yang menyatakan bahwa Sun Go Kong adalah tokoh nyata yang pernah hidup di dunia dengan ditemukannya makam Sun Go Kong. 

Makam dengan nama Sun Go Kong memang ditemukan di Kabupaten Shunchang, Provinsi Fujian, diperkirakan berasal dari zaman Ming, sesuai dengan masa ditulisnya novel Perjalanan ke Barat. Namun kera sakti dipastikan hanya sebuah tokoh mitos dan legenda yang dipopulerkan oleh Wu Cheng-en. Sun Go Kong dikategorikan sebagai dewa kategori ke-4, yakni dewa-dewi yang berasal dari tokoh legendaris. 

Segi sejarah dan legenda 

Sun Go Kong, adalah tokoh mitologi. Jadi tidak ada seorang tokoh Sun Go Kong benar-benar hidup di dunia. Pendeta Tong pergi mengambil kitab suci ke India sendirian. Ia pernah didampingi seorang lainnya, namun karena dihadang oleh sekelompok perampok, orang itu kemudian tidak berani menemaninya sampai ke India. Mengenai perampok ini, Discovery pernah mengilustrasikan dalam klip video seorang Pendeta Tong berlari2 dikejar sekelompok penjahat di perjalanan. 

Sun Go Kong muncul cuma dalam novel Perjalanan Ke Barat yang ditulis oleh Wu Cheng-en di zaman Ming. Darimana pula Wu Cheng-en mendapat ilham tentang Sun Go Kong? Ada 2 versi tentang ini, ada sastrawan yang yakin bahwa Sun Go Kong diadopsi dari karakter Hanoman.  

Ada pula yang meyakini Sun Go Kong adalah diilhami oleh karakter Wu Zi Qi yang juga tokoh mitologi di zaman Da Yu, Dinasti Xia. Da Yu terkenal akan jasanya menjinakkan banjir di Tiongkok pada tahun 2200 SM. Wu Zi Qi ini berwujud seperti kera. Inilah yang dianggap orang-orang menjadi ilham Wu Cheng-en untuk menciptakan karakter Sun Go Kong yang berwujud kera itu


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.